Gelas Anggurmu
Waktu orang-orang (alias Windy) lagi heboh-hebohnya dengan Recto Verso, gue tergoda. Tapi kemudian ada yang bilang ke gue kalo buku itu mirip dengan cerpen-cerpen di Kompas Minggu. Gue nggak pernah mengerti cerpennya Kompas. Jadi akhirnya gue mengurungkan niat untuk membeli.
Tapi beberapa minggu yang lalu adek gue membeli. Dan gue, tengsin kalo ketauan memiliki kapasitas pencernaan yang lebih rendah dari adek sendiri, mulai membaca. Ternyata nggak kayak cerpen Kompas... karena gue ngerti. *bersorak dalam hati*
And damn, she's good.
Gue pertama kali baca novel Supernova yang judulnya... umm... ksatria, putri, dan... sesuatu. Waktu itu gue SMA kalo nggak salah. Gue inget itu novel dengan banyak sekali footnote dan membaca itu membuat gue merasa cerdas. Kayaknya waktu itu gue bahkan nggak ngerti deh si Dee ini mau ngomong apa sebetulnya. Mungkin sesuatu kayak... kebahagiaan itu tepat di depan mata lo dan baru setelah lo berputar-putar dan jungkir balik lo bisa menyadari itu. Tapi gue nggak yakin juga sih. Udah lama banget juga bacanya and mind you, saat itu gue masih berupa anak SMA yang terbiasa membaca TeenVogue dan novel GossipGirl.
Balik ke Recto Verso. Gue suka banget ceritanya. Gue bilang, walaupun nggak banyak istilah-istilah jenius kayak Supernova, cerpen ini nggak kalah bagus (kalau bukan malah lebih bagus). Sederhana, tapi touching. Mungkin karena kesederhanaan itu cerpen-cerpen ini banyak dikagumi orang.
Katanya kumpulan cerpen itu adalah cerita perjalanan hidupnya Dewi Lestari, tentang Marcel dan suaminya yang sekarang ini. Sesuatu yang sangat personal, terlalu personal bahkan. Tapi dia bisa membungkus cerita-cerita personal dia dengan cerita lain yang nggak membuat orang yang baca merasa seolah-olah sedang mengintip ke dalam jendela rumahnya.
Gue suka banget cerita pertamanya, Curhat buat Sahabat. Waktu dia bilang, dia sudah mendegradasi permohonannya pada Tuhan. Dia sekarang hanya meminta air putih, nggak macem-macem. Dia memohon dan memohon tanpa menyadari kalau di hadapannya udah tersedia anggur kualitas terbaik.
It's as if God told her this, "Honey, why do you keep praying for something like water while I already give you the best wine there, right in front of you? Why do you keep lowering yourself when I know you are so much better, deserve better? Why can't you see? Why won't you see?"
Well, God did not literary say those, tapi begitu lah kira-kira. Kadang-kadang manusia berdoa untuk sesuatu yang belum tentu baik untuk dia dan mengacuhkan hal yang bisa jadi terbaik untuk dia. Mungkin udah ratusan kali gue melakukan itu. Hahaha... People make mistakes, I just hope I will do better in the future.
Posted in: books, thoughts on Minggu, 26 April 2009 at di 17:29 2 komentar