Just The Way You Are

Gue rasa semua partnership yang baik pasti didasari dari friendship nggak sih? Umm..., because they say friends stay forever. Menurut gue, nggak ada yang namanya stay forever, jadi kata-kata itu sangat klise. Tapi betul, friends stay longer.

Pada dasarnya temen itu kan orang yang lo kenal, lo ngerasa nyaman bareng mereka, dan bisa jadi diri lo sendiri waktu sama-sama. Friends itu orang-orang yang ngedengerin cerita lo di malem-malem buta waktu lo abis putus atau nemenin lo belanja sampe gila. Mereka juga orang-orang yang menampar lo dengan kata-kata karena mereka yakin sama kemampuan lo. Orang-orang yang selalu ada untuk jadi kekuatan lo.

Satu hubungan bisa berubah dalam waktu singkat. Suatu romance-ship berakhir saat romance itu hilang. Tapi seperti Marcell dan Dewi Lestari, walaupun saat cinta itu hilang, pertemanan itu selalu di sana. Karena menurut gue, kualitas diri lo salah satunya bisa dilihat dari kebesaran hati lo untuk memaafkan yang lalu dan move on with your life.

Kualitas diri seharusnya nggak berubah, di samping perubahan apa pun yang menimpa hubungan lo dengan orang lain. Karena toh saat lo memulai hubungan apa aja dengan orang lain, lo mendasari itu dengan tanpa mengharapkan balesan apa-apa. Lo nggak mendengarkan curhatan orang supaya ditraktir kan? Nggak juga ngasih penasehatan untuk dibeliin sepatu baru kan? Nonsense kata-kata: 'nggak akan pernah bisa nganggep lo sebagai temen gue...' Karena yang mendasari sikap lo kepada orang lain nggak bergantung pada sikap orang itu ke lo, nggak juga apa yang bisa ditawarin orang itu ke lo. You do that because it's just who you are.

And that, Dear, what makes you precious.

Jatuh Cinta

Gue jatuh cinta pada pendengaran pertama sama lagu-lagunya Adhitia Sofyan. Bagus yaaaa.... Taunya juga nggak sengaja. Gara-gara status Ika dan Senni 'Adelaide Sky - Adhitia Sofyan'. Trus gue penasaran dan berpaling ke Om Google. Ternyata dia naro albumnya di sini. Feel free to download, ini aseli dari orangnya kok bukan pembajakan. Huehehehe... Himatek tells the truth lhoo...

Bagus lho. Bagus. Bagus. *jadi promosi abis...*

Damn. He's good.

information equals power

I've just finished reading 'Stone Cold' by David Baldacci. And the story was damn good. Well, actually I got bored at first, for the story was kind of slow in the beginning. And this Baldacci guy put a lot of crap about casino owner who'd gotten ripped off by a con artist, who did that on behalf of taking revenge for the death of her mother. But at the end, it got better. It's actually about huge drama of "saving the world" plotted by CIA bureaucrats that costs a lot of innocent lives.

I know it's just a made-up-story, none of the real... but still. It's scary to imagine how far people would go for a thing called power. While it's true that in reality there's no such men as Darth Vader or Joker or anybadguyinPowerRangersseries, there are men who use and maintain power in ways we could never imagine one could. Like Hitler. Or the Pharaoh in the history of Musa. Or any other who did such genocide. I know that it's bad to talk about people who's already dead, but in this case I think I could make exceptions.

Back to the story. I couldn't help but admire these guys' minds work. I mean, only such brilliant and crazy minds could ever think of demolishing two of the greatest leaders of Soviet Union; Yuri Andropov and Konstantin Chernenko. And on the name of maintaining world peace, too. Again, I know this is a fiction. But really, I think I won't be much surprise if things like this ever happen in reality.

So the story begins with the killing of Rayfield Solomon. He and his wife, a Russian double agent, had got a secret mission from the head of CIA to get rid of these Soviet Union leaders. They were told that the commander in chief himself ordered this. It's similar with 'mission unknown' that commonly ordered for intelligent s army. These missions are extremely insane and sensitive, so that a nation would not taking responsibilities if anything went wrong during the execution. The soldiers risking their lives for their country with only a little reward if they succeed. And if they failed, the mission won't be admitted for there are no signatures of the president himself. The soldiers are told were doing it on their own. Sometimes even labeled as traitors. The country, its leaders, and its people got their hands clean.

Anyway, the mission itself was actually succeed. Andropov and Chernenko were dead and people thought it was because of their age and health, for those two were actually old and sick. But it turned out that the mission was illegal. United States did not order the execution of these Soviet leaders. Two CIA bureaucrat, now was the director of CIA and senator of Alabama, faked this order by the name of avoiding nuclear war as a result of Cold War. So in order to keep this a secret, they killed Solomon and tried to kill his wife too. But apparently, no such luck; for his wife was alive and their son was around, killing people who had betrayed his father.

It didn't take too long before the chaser turned into prey. The director of CIA, Carter Gray, used his power to track down the murderer of other former members of Triple Six. In the end, they got a deal. Solomon's son and wife could return to their normal lives and Solomon's name would be cleared as a traitor and removed from the CIA's Hall of Shame. In return, a video tape of Gray, senator of Alabama, Solomon, and Solomon's wife discussing murder of Andropov and Chernenko would not be published.

Then things turned miraculously back to normal. Solomon who had been labeled as traitor for decades now turned a hero. His wife was honored by the Medal of Freedom. His son went back to his family and continue working for national security service, despite the fact he had killed three former member of CIA's special unit and attempted to kill director of CIA and a senator. Well, the senator would have to burn his dream for being president forever, though. But Gray continue being the head of America's intelligence empire.

I like it when Gray laughed at the possibility he would make great president. He thought he was overqualified as a president and that he wanted real power. All presidents could really do is start wars, and those come along too infrequently. While being the chief of intelligence was far more exciting, because intelligence holds with informations.

And information is all that counts when you're in game to win.

Moral of the story: DO NOT cross the power if you want to live happily ever after in this crazy little world.

Quote

Hari Minggu kemarin, gue baru beres-beres kamar dan menemukan buku lama: 7 Habits Highly Effective For Teens. Iya, gue tau, gue bukan teen lagi. Tapi gue iseng baca-baca dan menemukan quote yang quite interesting...

"I have noticed that daily we meet moments that steal our self-esteem. They cannot be avoided. Pick up any magazine; you see people who look healthier, skinnier, or better dressed than you are. Look around. There is always someone who seems smarter, another more self-assured, still another more talented. In fact, each day we are reminded that we lack certain talents, that we make mistakes, that we do not excel in all things. So, it is easy to believe that we do not quite measure up in the great scheme of things, but are inferior in some secret way.

If you base your self-esteem, your feeling of self-worth, on anything outside the quality of your heart, your mind, or your soul, you have based it on a very shaky footing. So you and I are not perfect in form of physical figure. So you and I are not the richest, the wisest, the wittiest. So what?
"

(Paul H. Dunn)

Ternyata...

Orang kan banyak bilang beauty is pain. Banyak orang yang matanya sembab setelah keluar dari ruang praktek dokter kulit. Habis facial pasti. Kalo ngeliat acara-acara extreme make over yang pake operasi plastik segala, kulit dan daging disayat-sayat gitu... Hiii... Belum lagi cewek-cewek di film-film ABG Hollywood yang bulimia itu. Kebayang deh masukin jari ke kerongkongan buat muntahin makanan. Pertama, kerongkongan sakit. Kedua, perut pun sakit karena kontraksi ngeluarin makanan lagi lewat mulut.

Kemarin pagi ceritanya gue ke suatu pijat kaki, kayak pengobatan alternatif Cina gitu. Iseng aja sih. Abis tante gue seneng banget ke sana. Dan tante gue adalah promotor nomer satu. Kalo udah promosi, kayaknya hebat banget orang yang dipromosiin itu. Jadi walaupun gue merasa kalo berkunjung ke pengobatan alternatif adalah kerjaannya orang tua, akhirnya gue menyerah. Oke, gue ikut ke sana.

Orang yang nusuk-nusuk kaki pake suatu alat stainless itu katanya umurnya udah tujuh puluhan, tapi keliatan kayak masih 50-an. Karena sehat kali ya... Pertama liat gue, dia langsung nanya, "Kamu orangnya cengeng ya?" Hah? Nggak kok, gue jarang nangis kalo dijahatin, gue bales pasti. Tapi gue memang gampang nangis kalo nonton film. Hahaha... Nggak penting.

Eniwei, trus dia menusuk-nusuk kaki gue. Awalnya sih biasa aja. Tapi waktu dia nusuk sesuatu yang katanya berhubungan dengan tidur, gue jerit. Damn. Sakit. Kalo menurut dia, itu gara-gara tidur gue yang nggak bener. Trus nusuk-nusuk lagi, sambil ngajak ngobrol. "Itu dosen Teknik Kimia, Pak Bagyo sekeluarga pasien saya." Oh, right... Sekarang gue bener-bener ngerasa kayak orang tua... *peace, Pak* Trus gue jerit lagi. Tekanan darah rendah. Bagusnya syaraf gue nggak ada yang salah. Jadi aku nggak perlu ke dokter syaraf, Ibu... Trakhir gue menjerit waktu dia nusuk yang berhubungan sama mata. Dia kemudian dengan entengnya bilang, "Oh, abis kamu nggak pake kacamata. Saya iseng aja pengen tau..." Huhuhuhu... Setelah gue bilang mata gue silindris, dia bilang, "Saya bisa ngobatin mata silindris." Dan gue dengan mantap bilang, "Tidak, terimakasih." Mending gue pake kacamata daripada sakit ditusuk-tusuk.

Kesimpulan gue, ternyata bukan cuma untuk jadi cantik, jadi sehat juga ternyata sakiiiiit...

At Last

I said things I want to say and had the answers I requested. Decision was made. We had said goodbye. We'd never see each other again, at least not in the way we used to. Realization hit. It was over, even before it began. Broken promises. We had said goodbye. It was over. Tears to come. We had said goodbye.

Over A Million Reasons Why

Jam 05.09 pagi. Matahari masih belum nongol, udara pagi masih dingiiiiinn banget. Gue ada di depan laptop, menulis.

Why am I already awake? Hmm..., pertama karena gue tidur cepet kemarin. Kedua karena hari ini gue masuk pagi and I hate rushing off in the morning. Kebiasaan gue sebelum berangkat kuliah adalah santai-santai minum kopi, mandi, pampering... dan semuanya lebih asik kalo dilakukan dengan hati riang gembira tanpa pikiran: "Gue telat. Gue telat. Mudah-mudahan nggak jadi kuis."

Eniwei, sedangkan alasan kenapa gue pagi-padi udah ngeblog adalah: gue sebal sekali kemarin malem. Dan semua akan lebih baik kalo gue menyalurkan kesebalan gue. Maka dipilihlah blog ini. Karena ini kan blog gue, gue yang nulis, gue yang bikin, terserah gue. *lho jadi ngomel*

Intinya gue lagi sebal.

Damn. The worst part is I know I shouldn't have to. Untuk kesekian kalinya dalam hidup gue, I wish life would go my way. Tapi coba tebak. Life doesn't. Kalo gue sebegitu manjanya seperti Blair Waldorf, I would definitely hate life. Life's a bitch. Gue harusnya jambak-jambakin rambutnya, namparin, bullying *ngikutin geng Nero*

Ternyata, dear Mommy, aku nggak segitu manjanya bukan?? Toh gue nggak walking around dengan rokok di tangan, muka berantakan, baju nggak dicuci, sambil bergumam, "Sh*t, I hate my life! I hate my life!" Kayak orang stres. Huahahaha... Berlebihan mode ON.

Paling gue cuma merepotkan Aji dengan segala curhatanaliasmakiannggakpenting gue. Hihihi... Nggak pa-pa..., segala sesuatu harus disalurkan dengan baik. Kalo nggak nanti menumpuk dan menjadi racun di hati. Halah.

Sebetulnya gue lebih sebel sama diri gue sendiri sih. Sering banget gue membiarkan kontrol lepas dari tangan gue. Abis dia begini..., abis si itu begitu... Gue bisa membuat sejuta alasan supaya gue keliatan benar dan orang lain keliatan salah. But above all, there are over a million reasons why I could only blame myself. Terutama, karena ini hidup gue. Gue yang memutuskan apakah gue mau kesel, mau senang, mau marah, mau santai, dan lain sebagainya. Life's about to choose.

Gue bisa memutuskan untuk membenci hidup gue, bertanya-tanya kenapa hidup nggak selalu sesuai dengan apa yang gue mau. Tapi hidup toh tetep berjalan semau dia. Nggak peduli gue mau nangis kayak gimana, hidup nggak akan berhenti sebentar aja dan mendengarkan protes gue.

Life goes. In it's own way. Gue yang harus selalu berkompromi. Pilihannya adalah gue mau berkompromi sama dia atau terus musuhan kan? Dan yang paling menyebalkan, hidup selalu menang dari gue. Gue mau menghindar kayak gimana, kalo memang jalannya begitu ya begitu. Dan hidup nggak berkompromi.

Sebal.

To Be Me

Gue sempet stres kemarin. Hahaha... Lemah banget deh. Akumulasi dari nggak tidur dari kamis sampe setengah tiga sore hari jumat. Trus hari itu juga harus balik ke Bogor, besoknya ke Jakarta, besoknya pulang lagi ke Bandung. Sampe di Bandung ngerjain jurnal, belajar buat Labtek, ngerjain PR.

Dan sekarang gue flu. Batuk dan pilek. Untung ada Desty yang punya banyak persediaan tissue.

Hari ini adalah hari pertama rangkaian Dies Emas ITB. Rada ironis sih menurut gue. Karena entah kenapa, waktu ada acara kayak gini gue ngerasa ITB kayak bukan "milik" gue. Dari sekitar Plaza Widya ke bawah banyak banget stand-sebut-saja-semua-juga-ada. Banner-banner raksasa bertuliskan perusahaan-perusahaan dari mulai oil&gas sampe televisi (media partner-nya MetroTV). Gue rasa ITB bahkan nggak perlu repot-repot nyebar proposal, perusahaan-perusahaan itu udah dateng sendiri nawarin sponsorship.

HMFT ketutupan counter sesuatu. Labtek-Labtek belakang (termasuk Labtek X) cuma kebagian gema orang-orang yang nyanyi di Plaza Widya. Jalanan DITUTUP gara-gara JK dateng. Bete banget gue. Bahkan untuk masuk kampus sendiri susah!! Telat dateng kuliah Dalpro deh tadi gue.

Taruhan week-end ini Bandung pasti macettt parah. Selain gara-gara long week-end (Senin libur), juga gara-gara Dies Emas ini alumni banyak bikin reuni. Seperti bokap gue yang udah merencanakan dateng ke reuninya angkatan '77. Katanya angkatan '56 juga mau bikin?? Mungkin '83 juga... Pengennya sih gue kabur ke Jakarta nonton JavaJazz..., tapi babeh dan ibu malah mau dataaaaang........

Tadi kuliah full dari jam 10 sampe 5. Jam 10 dimana jalanan ditutup semua dan gue mesti jalan dari parkiran Sipil ke gedung Mekanika Tanah. Gilaaa.... Jauhhhh... Nggak sempet nonton Dies karena jam 5-7 nya pun ada pelatihan Hysys. Trus bareng Hasan, Panji, dan Ika ke BSM makan dan main bombomcar. Trus ke percetakan dan menemukan cover Boulevard belum jadi!! Untung gue tadi udah kenyang. *sigh*