asumsi

Kalo lagi ngerjain soal Neraca Massa dan Energi semester 3 lalu..., gue terkadang harus membuat asumsi-asumsi tertentu supaya persamaannya bisa dikerjakan. Misalnya udara yang masuk diasumsikan bertekanan sama dengan udara luar, 1 Atm. Atau suhu awal diasumsikan sama dengan suhu ruangan, suhu ruangan diasumsikan 25 Celcius degree. Atau asumsi gas ideal untuk mempermudah perhitungan.

Gue suka amaze gimana ilmu Teknik Kimia itu gampang banget diterapkan di kehidupan sehari-hari. Soal asumsi ini misalnya.

Gue terutama, sering banget membuat asumsi. Kayak pas mau ujian..., asumsi soal tidak keluar karena terlalu susah. Asumsi soal yang keluar sama kayak di Bank Soal. Dsb... dst... Itu sih nggak begitu masalah, walopun masalah juga sih kalo hasil ujian berakhir tragis karena asumsi yang salah. Tapi yang lebih fatal ketika kita menerapkan asumsi macam-macam dalam hubungan dengan orang lain. Asumsi dia bisa ngerti gue. Asumsi dia mikirnya gini. Asumsi dia orangnya begini. Asumsi dia punya waktu. Tanpa ngomong-ngomong dulu, kita keukeuh megang asumsi yang belum tentu betul. Terlalu banyak asumsi, akhirnya berantakan. Ribet.

Komunikasi. Harusnya, kalo ngeliat dari hasil grafotest gue waktu SMA, gue jago dalam hal ini. Tapi mungkin yang namanya bakat kalo nggak dipake jadinya nggak maksimal juga ya. Gue ngerasa gue autis banget dalam hal ini, malahan.

Kadang-kadang cuma karena gue ngerasa nggak pada tempatnya gue bilang begini-begitu. Atau karena gengsi gue (secara gue mahasiswa ITB, teknik, gengsinya segede langit), I don't want to be seen like I actually need something.

Jadi yang diperlukan adalah (mengutip kata Aji) perang bantal. Komunikasiin semuanya, lepasin apa yang ada di pikiran, dan ikhlasin semuanya. Karena sebetulnya, dengan cara kayak gitu, nggak ada yang bener-bener luka kan? Lha wong pake bantal. Daripada perang "beneran", dengan segala siasat dan amunisi, akhirnya tersisa adalah orang yang kalah dan orang yang (merasa) menang.

Yang penting lagi adalah tahu kapan saatnya untuk minta maaf. It is so hard to apologize. Especially when you feel like you're the one who'd been hurt. Tapi sekali lagi, itu kan cuma asumsi. Kata siapa orang lain nggak 'terluka' gara-gara tindakan reaktif yang kita lakukan waktu kita 'disakiti'? Dan akhirnya, mungkin orang itu juga bakal bertindak reaktif. Jadinya lingkaran setan deh. Nggak berhenti-berhenti.

Nggak pa-pa kan kali ini salah. Namanya juga hidup. Dan katanya..., hidup itu adalah perjalanan panjang mencari kebenaran.

Saat Senja di Persimpangan

Selang plastik terhubung pada tubuh yang membujur di atas tempat tidur. Di hidung sebagai alat bantu pernafasannya dan di lengan untuk suplai makanannya. Setelah berminggu-minggu kondisinya naik-turun, kini dia dapat hanya terbaring lemah. Tidak sadarkan diri.

Tubuhnya yang dulu pendek dan gempal kini tinggal tulang berbalut kulit. Wajahnya kian tirus. Hanya perutnya saja yang menggembung, menandakan penyakit tua yang dideritanya. Fungsi livernya hanya tinggal dua puluh persen, mungkin kurang. Dokter bilang, ini adalah fase terminal. Pria tua itu bisa pergi kapan saja, dalam hitungan hari bahkan jam, dan untuk selama-lamanya.

Keluarga berkumpul, menjaganya bergantian siang-malam. Ini adalah sosok yang pernah menjadi pahlawan dalam hidup empat pria yang kini sudah buncit-buncit semua. Sosok yang selalu mengasihi dan memberikan perlindungan terbaiknya bagi mereka.

Hidup adalah di mana waktu menjadi penentu yang tak akan pernah terkalahkan. Betapa sosok yang dulunya kuat kini hanya berbaring tak berdaya. Yang tersisa hanya kenangan, terimakasih, dan cinta. Ini saat menyemai kebaikan yang dulu diinvestasikan. Karena ternyata, betapa pun kuatnya, manusia tidak dapat hidup sendiri.

Banyak harapan yang belum sempat terlaksanakan. Namun saat senja berada di ufuk, tak ada yang dapat menahannya untuk tenggelam. Ikhlas dan berdoa untuk yang terbaik. Sekalipun ternyata yang terbaik adalah merelakannya pergi.

Double Standard

Gue banyak mendengar soal Amerika Serikat menerapkan double standard. Pada masalah Irak, masalah Israel, masalah Kuwait, dan lain sebagainya. Pada masalah nuklir nih, Amerika Serikat memborbardir Irak karena katanya di sana ada pengembangan senjata nuklir (which is stupid idea. Maksud gue, kalo emang si Amrik yakin di sana ada nuklir, pasti mereka hati-hati saat menyerang. Kalo salah ngebom dan kena pabrik nuklirnya kan bisa-bisa satu Asia Barat kena efek. Pastinya seluruh tentara AS juga tewas di tempat). Mereka juga terus melakukan konsolidasi mendesak Korea Utara menghentikan produksi nuklirnya. Tapi..., si AS sendiri rajanya nuklir. Dia nggak mau nandatanganin protokol Kyoto tentang lingkungan pula.

Eniwei..., menurut pendapat gue, double standard berarti memberlakukan standar yang berbeda pada tiap-tiap pihak, padahal isu yang diangkat sama-sama juga. Betul?

Jadi begini, orang-orang selalu bilang kalau ITB adalah institusi pendidikan. Artinya, ITB seharusnya menjadi pendidik. Dimana semua kesalahan bisa dimaafkan, dimana kesempatan untuk belajar dibuka seluas-luasnya. Itu yang bikin keputusan drop out seperti keputusan yang sangat kejam. Seolah-olah seorang ayah tega membunuh anaknya sendiri.

Terus gue menarik dari rapat himpunan gue kemarin-kemarin. Karena gue katanya adalah anggota divisi PSDA (abis ga boleh non-div sama Auzan :D), jadi gue mesti dateng. Intinya sih kita membahas tentang pembedaan him dan non-him. Jadi banyak yang bilang, karena toh sekarang him dan non-him nggak ada bedanya, ya sekalian aja nggak usah ada non-him. Semua mahasiswa Teknik Kimia langsung aja jadi anggota.

Tapi kemudian muncul masalah 'kebanggaan' dan 'loyalitas' dan segala macam idialisme lainnya. Jadi kaderisasi harus tetep ada. Kita usahakan semua masuk himpunan kalau ada yang nggak, yaudah, dia nggak berhak jadi ini, jadi itu, dan sebagainya. Pembatasan kesempatan selalu ada. Walaupun dia tetep dapat pelayanan akademik dan bisa ikut kepanitiaan, tapi cuma jadi kacung.

Ada yang bilang, mahasiswa seharusnya cukup dewasa untuk memilih saat mau jadi himpunan atau nggak. Itu hak mereka. Mereka tau kalo nggak masuk himpunan konsekuensinya ini-ini-ini. Ya udah, saat mereka memutuskan untuk nggak ikut, mereka harus ikut aturan. Sekarang semua orang udah tau peraturannya begini. Mereka juga tau konsekuensinya begini. Kalo nggak belajar dan nggak lulus TPB, DO. Kalau maksa melakukan kegiatan atas nama ITB (misalnya Himatek ITB) dan nggak ada izin sampai Dekan/WRMA, ada sanksinya.

Trus sekarang kenapa saat mahasiswa mau di-DO kita mati-matian bilang ini melanggar fungsi ITB sebagai institusi pendidikan? Padahal kita juga mati-matian bilang kalau nggak memenuhi syarat seseorang nggak boleh jadi ketua ini, ketua itu?

DO juga nggak berarti dia nggak dapat pembelajaran kan? Justru pembelajaran yang efektif, menurut gue. Dia bakal inget seumur hidup. Sama kayak anak-anak Tekim bakal inget azas-Black-panas-yang-keluar-sama-dengan-panas-yang-masuk semur hidup. Bahkan mungkin lebih.

Jadi pertanyaan gue, sama aja nggak sih mahasiswa dengan rektorat kalo kita tetep membatasi hak berorganisasi himpunan ke anak-anak? Sama aja nggak sih dengan rektorat yang men-DO mahasiswa yang TPB-nya nggak lulus? Sama aja dengan rektorat yang men-DO anak-anak yang melanggar SK Rektor bahkan melanggar surat yang udah ditandatanganinya di atas materai?

Gue nggak bilang "sok aja DO tuh anak-anak". Nggak juga bilang "harusnya semua mahasiswa jadi anggota himpunan jurusannya masing-masing". Tapi yang gue sebel di sini, double standard-nya itu. Nggak ada bedanya mahasiswa sama Amerika Serikat. Nggak bisa berpijak sama satu hukum. Nggak ada yang namanya idealisme. Selalu ada: 'tapi...', 'kecuali...' Dan kata-kata itu cuma keluar kalau mengancam eksistensinya.

Jadi jangan protes orang lain menerapkan double standard kalo kita masih begitu. Jangan bilang orang lain munafik kalo ujung-ujungnya kita juga munafik. Truth bites, but it's all we have.

Peraturan yang Dibuat untuk Dilanggar

Liburan semester kemarin, saya dan teman-teman di Prodi Teknik Kimia ITB angkatan 2006 mengadakan kuliah kerja (kulker) ke 4 pabrik di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebenarnya kulker diadakan untuk mengenalkan proses-proses yang terjadi di pabrik. Pabrik yang saya kunjungi adalah Petrokimia Gresik, Unilever, Hess, dan Pertamina Cilacap.

Kesan-kesan saya adalah sebagai berikut:

  1. Petrogres: So-so... Sebenarnya kami tidak melihat proses secara langsung. Cuma 'nonton' saja di bus.
  2. Unilever: Wow... Pabriknya so putih-so bersih. Pabrik terdingin yang pernah saya datangi. FYI, karena kebetulan saya mengunjungi tempat produksi personal care (Pepsodent dan Close-Up) yang kental dengan nuansa mint, begitu keluar badan rasanya bersih :D
  3. Hess: Pabrik ini usianya baru 2 tahun, peralatannya kelihatan masih baru dan oke. Panas luar biasa. Serasa di gurun di Texas *kayak gue pernah ke gurun*
  4. Pertamina-Cilacap: Rasanya saya bisa mengerti mengapa depot ini pernah terbakar. Juga depot di Plumpang beberapa waktu lalu.
Perasaan aneh mulai dari waktu pengenalan perusahaan atau presentasi company profile Pertamina. Dari cara penyambutannya, kelihatan sekali orang-orangnya adalah orang-orang konservatif yang mengenal sistem kasta. Sangat kaku dan feodal, khas Indonesia.

Lalu kami mengelilingi pabrik dengan bus. Kesan pertama bagus. Plant Pertamina jauh lebih besar daripada Hess. Kapasitasnya juga jauh lebih besar. Walaupun peralatannya kelihatan kotor-kotor, tapi maklum lah... ini plant yang sudah berdiri berpulu-puluh tahun lamanya. Namun... oh-oh... Apa itu yang mengalir keluar dari pipa-pipa? Kebocoran kah? Ternyata itu adalah uap hasil ... *entah apa gue lupa namanya* yang dibiarkan keluar begitu saja. Yang seharusnya bisa diputar lagi untuk proses berkesinambungan, sustainability. Kemudian guide kami menambahkan, "Harusnya uap hasil prosesnya memang diputar lagi. Yah..., kalau energi makin mahal, mungkin suatu hari kami akan menambahkan alat untuk proses recycling-nya." Pertamina: always one step behind.

Kemudian kami mengunjungi control room. Yah..., berhubung saya tidak mengerti, bagian ini dilewatkan saja. Kami langsung tour melihat proses secara langsung. Harap dicatat kalau ini adalah pabrik, pabrik pengolahan minyak dan gas bumi pula. Panas dan bising. Si guide mengajak kami jalan-jalan sambil ngoceh tanpa menggunakan pengeras suara. Alhasil, cuma orang-orang yang ada di dua baris pertama yang bisa mendengar suaranya. Yang lebih menyebalkan, di sana sangat bising, saya ulangi. Si guide memakai ear-plug dan kami tidak dikasih. Mungkin si Pertamina menganggap, asal bukan engineer-nya, tidak apa-apa orang lain menderita gangguan pendengaran.

Saya terpaksa harus membandingkan dengan Hess, di sana kami tidak jalan-jalan seperti di Pertamina, tetapi ear-plug nya boleh diambil kalau mau. "Buat kenang-kenangan..." kata alumni yang bekerja di sana sambil nyengir.

Lalu sampailah kami pada daerah bertuliskan: 'Awas Benzen! Pakailah respirator!". Tanda itu terpampang gede-gede dilengkapi dengan gambar orang menggunakan respirator. Dan... si guide membimbing kami jalan-jalan ke daerah itu. Tanpa respirator, baik dia maupun kami. Lalu yang saya pikirkan: "Buat apa dikasih tanda segede-gede gitu kalau akhirnya dilanggar juga, hehhh??????"

Mengabdi pada negara lewat Pertamina? Hmm... Pikir-pikir lagi deh.

maksa

Gue lagi membaca banyak buku, tapi belum ada satu pun yang selesai. Dan sekarang, nggak kerasa, udah mulai semester baru. Yang berarti susah cari waktu luang karna sibuk-buk-buk... Kembali ke rutinitas kuliah, labtek, ditambah penelitian. Membosankan nggak sih aktivitas kuliah tuh? Tapi harus diniatin. Niat. Niat. Niat.

Anyway, ngomong-ngomong soal aktivitas di semester baru, gue dan Novi banyak menyusun resolusi. Sebenernya dia sih yang banyak, gue cuma satu. Belajar merajut. Ya, merajut. Kayak nenek-nenek di film Sylvester and Tweety. Mantap. Tapi... ternyata merajut itu susaaaaahhh... Dari kemaren gue nggak berhasil-berhasil bikin stitch yang bener. Ribet pula dengan sepasang jarum segede-gede gambreng itu. Nggak dilanjutin sayang, abis mahal banget untuk sepasang jarum doang.

Terus sekarang bola benang dan jarum itu teronggok begitu aja di meja belajar gue. Memang ya, idealisme dan realitanya nggak selalu sejalan *lho??*

untitled

Gue ngeliat archive blog gue dan menemukan bahwa semakin lama, tulisan gue per bulan makin dikit. Huahaha... Kebiasaan buruk gue nih. Suka semangat di awal dan get bored easily. Trus dua post terakhir gue nggak penting gitu. Yang satu lirik lagu dan yang satunya lagi puisi-ga-jelas. Yah... Setidaknya bulan ini bulan Februari. Bulan penuh cinta, kata orang-orang *trus hubungannya???*

Ngomong-ngomong soal lirik lagu, beberapa hari yang lalu gue baru ngedenger versi duetnya 'If I Were A Boy', Beyonce feat. R. Kelly. Jadinya aneh ya... Maksa gitu sih. Arti lagunya jadi beda kan. Memotong kreativitas. Kalo dari versi aslinya kan gue bisa mengira-ngira cowoknya kayak apa. Mungkin beneran brengsek. Kalo dikasih 'pembelaan' si cowok, intinya kan jadi cuma there are always two sides of story. Padahal nggak semua cowok yang lo kenal bener-bener cowok baik-baik. Oke... Melenceng jauh...

Eniwei, sekitar sebulan yang lalu, gue ngobrol-ngobrol sama temen gue. Partner curhat, lebih tepatnya. Abis curhatnya bersambung dari suatu-restoran-pasta-yang-gue-lupa-namanya di belakang Gramedia Padjadjaran Bogor sampe Ngopi Doeloe di deket Boromeus, Bandung. Pokoknya dia curhat tentang cewek yang lagi-deket-dan-mungkin-sekali-akan-pergi-meninggalkan-dia dan gue... hmm... mendengarkan. Iya nggak, To? *wink, wink* Yah..., secara gue nggak kenal ceweknya, gue cuma mengutarakan pendapat gue.

Gue juga tadinya menganggap bahwa love conquers all. Cinta mengalahkan segalanya. Cheesy. Very Disney. Tapi sekarang gue makin menyadari, kalau ada hal-hal yang bener-bener di luar kendali kita. You could meet the wrong guy on the right time. Or meet the right guy on the wrong time. Dan sekeras apa pun lo berusaha untuk mengerti, pada akhirnya cuma ada dua pilihan. Bertahan and let yourself slowly broken from inside atau pergi and never look back. Dua-duanya tetep menyakitkan, dan tiap orang bisa memutuskan berbeda-beda. I guess we all know what's best for us.

Gue rasa, in any kind of relationship --pertemanan, persahabatan, per-TTM-an, perpacaran, perkeluargaan, dsb-- dibutuhkan kompromi. Karena kita semua punya kebutuhan dan kepentingan masing-masing. Kompromi diperlukan supaya suatu hubungan itu bisa efektif dan efisien. Yang pada akhirnya mewujudkan suatu hubungan yang sehat, yang bergerak untuk jadi lebih baik. Tapi ada saatnya dimana kita mandek. Kompromi jadi susah dilakukan dan trying to understand only brings more heartache. Mungkin karena semakin lama hubungan itu jadi kayak berat sebelah dan jadi nggak adil for both. Untuk terus-terusan menahan diri.

Musuh terbesar cewek (mungkin, ini semau gue aja) adalah insecurity. Karena dalam hubungan 'jalanin aja deh, liat nanti', dia nggak akan pernah yakin. If I were her, it would bother me so much as if I'm walking on a very thin line. Gue berharap gue juga bisa santai, let it flow entah kemana... Tapi sebetulnya, I need to feel like I'm wanted.

Kadang-kadang gue memaksa diri gue untuk berpikir: 'what did I do wrong?', 'why it's never enough?', 'I should've done more'. Ada saatnya gue berpikir bahwa untuk menunjukkan gue peduli, I have to put them first, then me. Gue harus ngerti keadaannya gimana, gue harus lebih dewasa, lebih sabar, lebih ini, lebih itu... Tapi gue seharusnya nggak pernah menjadikan diri gue nomor dua. Gue mencoba untuk selalu ber-positive-thinking. Tapi ternyata ada saatnya dimana positive-thinking gue itu salah total dan in the end gue cuma menemukan kekecewaan. Semuanya karena gue berharap terlalu banyak. Dan kalo gue terus bertahan, gue nggak yakin kejadian kayak gini nggak akan berulang, I will only hurt myself more. Dan mungkin, itu juga yang dirasain si cewek itu.

Seperti kata Beyonce if she were a boy:

I'd listen to her/cause I know how it hurts/when you lose the one you wanted/cause he's taking you for granted/and all you ever knew was destroyed...

Betul banget kata Mbak B. As hard it is to let someone go..., we're so much worthy to be taken for granted!

Huahaha... Gue kebanyakan nonton drama-romantis nih. Last words, we all know that falling in love is indeed the most riddiculous feeling in the world.