Golput nggak ya...

Gue punya suatu kebiasaan yang aneh. Kalo lagi santai di rumah atau suasana hati sedang riang gembira, biasanya gue mandek waktu bikin tulisan. Tapi begitu sedang hectic dengan tugas, pembicaraan, dan ujian seperti sekarang ini, gue malah nulis blog. Gue berjanji pada Anthony Banzai untuk menyelesaikan tujuan dan latar belakang tugas Dalpro. Hummm... Belum gue kerjain.

Eniwei, waktu ketemu di YM beberapa hari yang lalu, Mas Edo meminta gue nulis tentang Election Day. Nulis apa ya gue ya... Rasanya semua-mua-mua udah ditulis berbagai koran dan majalah mingguan sampai majalah fashion. Yea..., yea... Walaupun GoGirl! udah membuat edisi khusus Pemilu, tetep aja angka golput masih mencapai 40%.

Di kampus juga lagi Pemilu Raya KM-ITB. Yang beritanya nggak terdengar sama sekali. Gue bengong gitu waktu temen gue ngajak nyoblos. Ha? Sekarang?? Temen gue juga ternyara tau gara-gara TPS-nya ada di selasar Labtek Biru.

Apakah gue mencoblos? Tentu tidak. Bukan, alesannya bukan karena gue takut salah pilih. Plis deh, basi banget. Bukan juga karena gue merasa nggak ada calon yang kompeten. Itu sih alesan yang naif. Gue nggak mencoblos karena gue sendiri nggak percaya dengan sistem Keluarga Mahasiswa. Yea..., kemahasiswaan terpusat itu perlu. Tapi bukan KM. Gue juga nggak tau kemahasiswaan terpusat yang bagus gimana, tapi jelas KM itu sistem yang nggak cocok diterapkan di kemahasiswaan ITB.

Berapa kali kabinet ganti presiden, ganti menteri, ganti staf ahli? Berapa kali dalam setahun kongres sidang? Apakah kemudian membuat kemahasiswaan yang lebih baik? Lebih terarah? Bisa mencapai cita-cita yang lebih besar? Apakah membuat gue merasa kalo gue adalah bagian dari KM?

Menurut gue, ini bukan cuma salah presiden yang nggak merakyat atau mahasiswa yang apatis. Presiden juga mahasiswa dan mahasiswa yang apatis punya alasan untuk bersikap seperti yang dia lakukan. Yang jadi masalah di sini, kita tahu mahasiswa ITB kayak gimana. Tahu kalo sistem kabinet malah seolah-olah membuat strata baru, elitism di kalangan mahasiswa sendiri. Tapi kenapa kita keukeuh dengan sistem ini?

Gue nggak peduli dengan kabinet dan KM. Nggak ada mereka kemahasiswaan tetep jalan. Ada mereka kemahasiswaan nggak menjadi lebih baik. Gue nggak memilih di Pemilu Raya karena gue nggak butuh KM. Itu pilihan yang gue jatuhkan secara sadar. Apakah berarti gue juga apatis? Hummm..., nggak tau deh.

Tapi gue peduli sama Indonesia. Terlepas dari kertas suara yang mengorbankan sekian juta pohon, terlepas dari sistem pilih-caleg-langsung yang menurut gue nggak efektif, terlepas dengan partai-partai yang banyak banget dan bikin pusing... Gue butuh DPR, butuh presiden, butuh pemimpin. Lembaga-lembaganya udah ada dan menurut gue tanpa lembaga-lembaga itu Indonesia nggak bisa jalan. Sekarang gue tinggal mencari orang-orangnya. Pilihannya juga udah ada. Yang gue lakukan tinggal mencontreng partai terbaik versi gue. Gue pun mencontreng.

Yes, Dear... sesederhana itu.

4 komentar:

  1. Dev, kmrn aku nulis komen kok skrg lenyap ya?
    apa aku lupa nge klik publish?
    bodoh deh....

    danu

     
  2. Hummm..., kayaknya begitu. Hihihi... Komen apa?

     
  3. selamat anda masih menemukan pemimpin yang bisa dipercaya...LOL :D

    -jofa-

     
  4. ya sudah lah, udah ga penting skrg, hehehe....