Peraturan yang Dibuat untuk Dilanggar

Liburan semester kemarin, saya dan teman-teman di Prodi Teknik Kimia ITB angkatan 2006 mengadakan kuliah kerja (kulker) ke 4 pabrik di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebenarnya kulker diadakan untuk mengenalkan proses-proses yang terjadi di pabrik. Pabrik yang saya kunjungi adalah Petrokimia Gresik, Unilever, Hess, dan Pertamina Cilacap.

Kesan-kesan saya adalah sebagai berikut:

  1. Petrogres: So-so... Sebenarnya kami tidak melihat proses secara langsung. Cuma 'nonton' saja di bus.
  2. Unilever: Wow... Pabriknya so putih-so bersih. Pabrik terdingin yang pernah saya datangi. FYI, karena kebetulan saya mengunjungi tempat produksi personal care (Pepsodent dan Close-Up) yang kental dengan nuansa mint, begitu keluar badan rasanya bersih :D
  3. Hess: Pabrik ini usianya baru 2 tahun, peralatannya kelihatan masih baru dan oke. Panas luar biasa. Serasa di gurun di Texas *kayak gue pernah ke gurun*
  4. Pertamina-Cilacap: Rasanya saya bisa mengerti mengapa depot ini pernah terbakar. Juga depot di Plumpang beberapa waktu lalu.
Perasaan aneh mulai dari waktu pengenalan perusahaan atau presentasi company profile Pertamina. Dari cara penyambutannya, kelihatan sekali orang-orangnya adalah orang-orang konservatif yang mengenal sistem kasta. Sangat kaku dan feodal, khas Indonesia.

Lalu kami mengelilingi pabrik dengan bus. Kesan pertama bagus. Plant Pertamina jauh lebih besar daripada Hess. Kapasitasnya juga jauh lebih besar. Walaupun peralatannya kelihatan kotor-kotor, tapi maklum lah... ini plant yang sudah berdiri berpulu-puluh tahun lamanya. Namun... oh-oh... Apa itu yang mengalir keluar dari pipa-pipa? Kebocoran kah? Ternyata itu adalah uap hasil ... *entah apa gue lupa namanya* yang dibiarkan keluar begitu saja. Yang seharusnya bisa diputar lagi untuk proses berkesinambungan, sustainability. Kemudian guide kami menambahkan, "Harusnya uap hasil prosesnya memang diputar lagi. Yah..., kalau energi makin mahal, mungkin suatu hari kami akan menambahkan alat untuk proses recycling-nya." Pertamina: always one step behind.

Kemudian kami mengunjungi control room. Yah..., berhubung saya tidak mengerti, bagian ini dilewatkan saja. Kami langsung tour melihat proses secara langsung. Harap dicatat kalau ini adalah pabrik, pabrik pengolahan minyak dan gas bumi pula. Panas dan bising. Si guide mengajak kami jalan-jalan sambil ngoceh tanpa menggunakan pengeras suara. Alhasil, cuma orang-orang yang ada di dua baris pertama yang bisa mendengar suaranya. Yang lebih menyebalkan, di sana sangat bising, saya ulangi. Si guide memakai ear-plug dan kami tidak dikasih. Mungkin si Pertamina menganggap, asal bukan engineer-nya, tidak apa-apa orang lain menderita gangguan pendengaran.

Saya terpaksa harus membandingkan dengan Hess, di sana kami tidak jalan-jalan seperti di Pertamina, tetapi ear-plug nya boleh diambil kalau mau. "Buat kenang-kenangan..." kata alumni yang bekerja di sana sambil nyengir.

Lalu sampailah kami pada daerah bertuliskan: 'Awas Benzen! Pakailah respirator!". Tanda itu terpampang gede-gede dilengkapi dengan gambar orang menggunakan respirator. Dan... si guide membimbing kami jalan-jalan ke daerah itu. Tanpa respirator, baik dia maupun kami. Lalu yang saya pikirkan: "Buat apa dikasih tanda segede-gede gitu kalau akhirnya dilanggar juga, hehhh??????"

Mengabdi pada negara lewat Pertamina? Hmm... Pikir-pikir lagi deh.

2 komentar:

  1. yah...jangan gitu donk. kans gw buat dapet kerja yang tersisa cuma dari pertamina doank T_T

     
  2. hahaha
    bikin saingan pertamina aja yuk.