ngga jelas

Devy is...

1. Questioning why there are people who are 'anti-kemapanan'. Instead of anti-kemapanan, aren't we supposed to be 'anti-kemiskinan'?
2. Still confused about should she or should she not take Ilmu Gizi Pangan this semester.
3. Avoiding dark-chocolate Toblerone on her desk. Enough is enough.
4. Not really sure about what-to-wear at Chemical Engineering Night this Saturday.
5. So wanting to write in her blog but doesn't really know what to write.

The Rose

Salah satu lagu yang ada di CD mahal yang gw beli bulan2 kemaren (masih merasa tertipu sama mas2 DiscTarra, huhu...)

The Rose

Some say love it is a river
That drowns the tender reed

Some say love it is a razor
That leaves your soul to bleed

Some say love it is a hunger
An endless aching need

I say love it is a flower
And you its only seed


It's the heart afraid of breaking
That never learns to dance

It's the dream afraid of waking
That never takes the chance

It's the one who won't be taking
Who cannot seem to care

And the soul afraid of dying
That never learns to live


When the night has been too lonely
And the road has been to long

And you think that love is only
For the lucky and the strong

Just remember in the winter
Far beneath the bitter snows

Lies the seed that with the sun's love
In the spring becomes the rose

Dove Memang Beda

Gw nggak bermaksud ikut-ikutan mempromosikan Dove di blog ini, bahwa 1/4-nya adalah moisturizing cream dan lain-lain... Ini tentang iklan Dove yang gw liat di Oprah beberapa taun yang lalu. Nggak seperti iklan-iklan produk kecantikan yang selalu menonjolkan 'definisi kecantikan' ("kulit putih", "kulit cerah", "cewek yang disukai cowok adalah yang berkulit putih"), di iklan ini, Dove mengatakan: you should be grateful for who you are. Di campaign-nya itu dia nampilin anak-anak, kulit putih, kulit hitam, chinese, yang berkacamata, yang pake bracket, yang banyak freckle, yang gemuk, yang kurus,dan lain-lain. Awalnya anak-anak itu keliatan murung, sampe trus mereka tersenyum dan tertawa karena menyadari mereka cantik. Backsoundnya lagu Phil Collins, True Colors, yang dinyanyiin anak-anak.

Setelah gw nonton itu gw jadi menyadari seberapa media, (khususnya televisi) sekarang memang udah 'menyisip' bahkan ke dalam tempat-tempat yang seharusnya untuk pribadi. Kita udah dicekokin dengan suatu paradigma tentang adanya standar kecantikan. Kita diajarkan untuk membedakan: si A cantik, si B jelek, si C lumayan. Padahal kalo dipikir-pikir apa sih yang menjadi dasar kita untuk membedakan si A, B, dan C? Apakah A cantik karena dia kurus, putih, hidung mancung? Apakah B jelek karena dia hitam, gemuk, dan keriting? Siapa yang bilang cantik itu harus kurus, putih, dan mancung? Apa karena Iriana Lazereau kurus trus semua orang harus kurus dulu untuk jadi cantik? Waktu jamannya Britney Spears, tiba-tiba semua orang akan jadi lebih cantik kalo rambutnya blond juga. Sementara di Indonesia, karena artis rata-rata berkulit putih, kita mendefinisikan cantik sebagai 'kulit putih'. Orang-orang berlomba-lomba operasi plastik. Naikin tulang pipi, mancungin hidung, permak bibir, runcingin dagu dan lain-lain. Tapi operasi plastik nggak akan membuat orang menjadi cantik, itu cuma akan membuat orang terlihat lebih mirip dengan model-model majalah.

Di Afrika sana juga ada yang mendefinisikan cantik dengan seberapa panjang leher mereka. Karena itu perempuan-perempuan menyangga leher mereka dengan semacam gelang-leher yang tiap tahun selalu ditambah. Tradisi Cina jaman dulu dimana derajat sosial perempuan ditentukan dengan seberapa kecil ukuran kaki seseorang, makanya gadis-gadis bangsawan biasa pake sepatu yang menghambat perkembangan kaki mereka. Jaman Victoria dulu, cantik didefinisikan dengan seberapa kecil lingkar pinggang mereka, makanya mereka pake korset ekstra ketat kayak di film Gone with The Wind. Konyol? Nggak lebih konyol dari memotong daging untuk mengganti tulang dengan silikon, menyuntikan cairan asing ke dalam tubuh untuk menghambat produksi melanin, atau masukin jari kedalam kerongkongan untuk memuntahkan makanan.

Standar yang ada di masyarakat ini udah keterlaluan karena diterima dengan wajar sama orang-orang. Salah satu temen gw pernah bilang, "Kita semua adalah konsumen. Dan konsumen nurut apa kata produsen." Terus reaksi gw adalah, bukannya gw berhak untuk memilih ya? Gw nggak mau ikut-ikutan apa kata si produsen, terutama kalo hasilnya ngerusak kayak gini. Gw inget, waktu itu ada iklan sabun X di Indonesia, di situ dia nanya-nanyain para cowok, cewek seperti apa yang mereka suka. Trus si cowok-cowok itu akan bilang: yang kulitnya putih. Iklan itu kurang ajar, tapi kayaknya nggak ada yang nyadar. Masyarakat udah bener-bener didoktrin bahwa such standard exist. Menyedihkan.

Gw rasa sebenernya nggak ada seorang pun yang berhak menentukan definisi kecantikan. Nggak agensi model, nggak Karl Lagerfield, nggak perusahaan sabun, nggak perusahaan kosmetik, nggak seorang pun. Manusia diciptain sama Tuhan loh. Gimana kita mau bilang kalo kita adalah manusia yang percaya dan takut pada Tuhan kalo di dalam hati kita selalu bilang: 'ciptaan Tuhan yang ini jelek', 'nah, ciptaan Tuhan yang ini cantik', 'ugghh... ciptaan Tuhan yang ini jeleknya keterlaluan'??

Gw jadi kepikiran, tentang banyaknya orang yang melakukan operasi plastik akhir-akhir ini, by the name of beauty. Penyakit bernama 'standar kecantikan' itu segitu mempengaruhi mereka sampai mau merogoh kocek puluhan juta untuk mendapatkan hidung ideal, dagu ideal, tulang pipi ideal, dan lain-lain. Penyakit itu juga yang menyebar dan merasuki sekitarnya. Coba bayangin gimana perasaan anaknya. Dia bakal ngerasa bahwa hidung mamanya, yang sama dengan hidung dia, begitu jeleknya sehingga harus diubah. Tulang pipi mamanya, yang sama dengan tulang pipi kakaknya, juga jelek banget sampai harus dioperasi. Setiap hari dia ngeliat orang tuanya mematut-matut diri di cermin, mengeluh kelebihan berat badan padahal beratnya nggak lebih dari berat badan orang sehat. Si anak bakal tumbuh dengan perasaan nggak puas dengan dirinya sendiri. Why should she/he? Karena bahkan orang tuanya nggak pernah puas dengan dirinya sendiri.

Gw sering nonton talkshow dimana orang yang cantik, bahkan model sekalipun, terus-terusan merasa dirinya jelek. Akibatnya dia mulai menghindari cermin, kecanduan operasi plastik, anoreksia, bulimia, dan lain-lain. Gosipnya Michael Jackson juga menderita penyakit ini. Ini cukup membuktikan pada gw, bahwa sebetulnya cantik atau nggaknya seseorang, dia sendiri yang menentukan. Bukan standar busuk yang ada dalam masyarakat. Beauty really is what lies inside you. Dan jangan pernah membiarkan seorang pun berkata pada lo kalo lo nggak cantik. Because we are beautiful, like the rainbows...

SINTING

Tadinya gw sign in di blogger untuk nge-post beberapa hal yang gw pikirin akhir-akhir ini. Tapi kayaknya sekarang pikiran gw penuh dengan cerita yang gw denger tadi sore di sekre.

Jadi tadi gw ke sekre jam 5 sore. Si Ray menyebutkan di jarkom bahwa ada rapat tentang terbitan dan OHU, keadaan genting. Panik kan gw, udah gitu gw bilang ke Aji kalo bakal ada rapat tentang kaderisasi sama Ray. Jadi jam 5 kurang gw nyampe sekre. Di sana udah ada Windy, Panji, Hasan, Batari, dan Mas Didot yang-terkenal-itu-tapi-baru-sekali-gw-ketemu. Dan akhirnya..., kita malah nonton iklan-iklan aneh yang ada di MacBook-nya Mas Didot sambil sesekali mengecat huruf-huruf B-O-U-L-E-V-A-R-D dan menaburkan glitter. Nggak jadi rapat. Aji nggak dateng. Ika nggak ada. Ray baru dateng jam 6 kurang.

Nah, pas udah mau cabut, Ray tiba-tiba ngomong: "Eh, katanya ada video. Anak Elektro sama Tekim, 2006". Gw lagi ngobrol sama Hasan tuh, nggak begitu merhatiin. Trus ada yang nyeletuk: "Siapa tadi yang anak Tekim?" Gw langsung aware, "Hah? Apa? Apa?" Trus Ray bilang, "Iya, katanya ada yang nge-post video-nya." Hah??? Ada video anak Elektro dan Tekim???

Nyampe rumah, gw langsung menyalakan laptop dan membuka YM. Ternyata temen-temen gw di folder Himatek nampak sudah tau semua. Sapi! Gw baru tau hari ini, dari anak IF pula. Beritanya juga sebenernya masih simpang-siur. Semua orang punya suspect-nya masing-masing. Gw sendiri nggak begitu masalah kalo mereka melakukan apapun-yang-tidak-semestinya-dilakukan-tapi-toh-dilakukan-juga. Itu pilihan mereka, gw cuma akan menutup mata, pura-pura nggak tau. Tapi kalo ada video, God, itu memaksa gw untuk tau.

Gw nggak akan nge-post liputan "investigasi video 'syur' anak-anak ITB". Gw cuma mau sedikit mengeluarkan unek-unek gw. Kalo kata temen gw, Jofardhan Faruq (EL'04), "Itu kan urusan mereka, toh mereka udah gede. Udah tau konsekuensi perbuatan mereka." Gw juga tau itu bukan urusan gw. Cuma gw pasti ngerasa awkward ada di sekitar dia. Dan semua orang yang kenal gw mengatakan kalo ekspresi muka gw nggak bisa bohong. Gw nggak bisa nutupin saat gw lagi sedih, bete, seneng, dll. Si suspect ini pasti ngerasa kalo gw bertingkah aneh.

Jofa bilang, itu karena gw masih terpengaruh sama pendapat orang lain. Tapi gw rasa, reaksi gw bukannya terpengaruh sama orang lain. Memang gw ngerasanya gitu. Mungkin ini terdengar munafik ya, tapi gw rasa di dalam hati seseorang, pasti tau lah mana yang baik dan yang buruk. Gw juga bukan orang yang amat-sangat taat pada aturan-aturan kok. Tapi gw tetep tau mana yang salah kan. Dan gw rasa banyak orang yang masih punya rasa 'kebenaran' itu, walopun tetep dilakuin juga. That's why people make out in the car atau malahan sampe ML waktu orang tuanya nggak ada... Tapi mereka nggak melakukan itu terang-terangan, mungkin karena jauh di dalam hati, mereka ngerasa melakukan hal yang salah.

Gw menganalogikan hal ini dengan nyontek. Buat sebagian besar pelajar Indonesia nyontek itu rasanya kayak 'bumbu' dalam kehidupan sekolah. Nggak lengkap cerita 'masa muda dulu' tanpa seenggaknya sekali-duakali mencontek (jangan tanya seberapa sering gw menyontek). Gw inget, kita nggak malu-malu ngebuka buku catatan di kolong meja. Malah mungkin merasa hebat, bisa nyontek tanpa ketauan, ditambah dengan pacuan adrenalin waktu pelan-pelan buka buku dan menyalin jawabannya. Nyontek itu merugikan diri sendiri, tapi nggak cukup untuk mencegah kita melakukannya. Kita semua tau nyontek itu salah, tapi udah menerima itu sebagai sesuatu yang wajar.

Sedangkan, di dalam pendidikan 'barat'. Aib banget kalo seseorang ketauan nyontek. Terutama di sekolah-sekolah Inggris, apa lagi yang statusnya 'sekolah elit'. Nyontek itu mencerminkan kebobrokan mental, kecurangan, sifat tidak dapat dipercaya, pengkhianat, dan lain-lain. Sementara di jalan-jalan mereka dengan santainya make out, hidup bersama tanpa pernikahan adalah hal yang wajar, punya anak di luar nikah juga acceptable. Mereka udah menerima seks bebas sebagai bagian hidup mereka, sebagai hal yang wajar.

Trus gw mikir, kenapa bisa ada perbedaan kayak gitu ya? Di Indonesia, nyontek diterima sebagai hal yang wajar. Bahkan dulu pernah ada pengawas UAN yang digebukin karena mengawas 'terlalu ketat'. Tapi di sisi lain, kita mengutuk seks bebas, perzinahan. Di wilayah Barat sana, seks bebas adalah sesuatu yang lumrah tapi nyontek adalah suatu perbuatan hina.

Trus gw mikir lagi, kenapa ya kita memilah-milah kebenaran? Bisa bilang hal 'salah' ini acceptable, yang ini nggak. Padahal bukannya kebenaran itu adalah sesuatu hal yang mutlak ya? Bahkan saat gw menulis ini gw masih beranggapan, "nyontek itu salah... tapi sekali-sekali nggak pa-pa lah..."

Mungkin... saat kita melakukan suatu kesalahan, tapi kesalahan itu udah dianggap wajar, itu nggak seberat saat kita melakukan kesalahan yang memang dianggap aib. Karena kalo kita melakukan 'kesalahan wajar', kita memang udah dibiasain untuk hidup dengan itu. Tapi saat kita melakukan 'kesalahan yang tidak wajar', ini bener-bener salah karena kita udah dibesarkan untuk menjauhi perbuatan itu. Istilahnya, pagar pembatasnya lebih banyak.

Mungkin... Nggak tau ah. Argghhh...!!! Gw bingung dengan bagaimana dunia ini bekerja!!

bertahan demi nilai atau sekedar tradisi?

Akhir-akhir ini gw merasa bingung dengan kehidupan kampus. Entah kenapa nggak ada lagi 'berita seru' yang berhubungan sama mahasiswa. Gw nggak tau apakah mahasiswa sekarang lebih dewasa dengan being considerate kepada kebijakan-kebijakan rektorat atau makin kurang-cerdas dengan he'eh-he'eh aja apa kata rektorat.

Gw melihat kebijakan aneh yang dibikin petinggi-petinggi Annex sana berkaitan dengan mahasiswa. Pertama, kebijakan pembatasan waktu studi. Ini pernah gw bahas panjang-lebar di blog gw yang lain. Intinya menurut gw kebijakan ini membuat ITB jadi kayak pabrik. Masuk lulusan terbaik dari SMA-SMA, diproses, keluar jadi sarjana siap pakai. Kedua, mulai tahun ini di beberapa jurusan nggak boleh 'cuci nilai'. Maksudnya, kalau dulu nilai kita C atau B, bisa ngulang mata kuliah itu untuk ningkatin nilai dan IPK. Kalo sekarang kalo udah dapet C nggak bisa ngambil mata kuliah itu lagi. Mungkin maksud si pembuat aturan baik, tapi ini malah meningkatkan kecenderungan study-oriented (SO) di ITB. Gw tipe orang yang percaya orang-orang yang SO adalah orang-orang yang paling rugi di masa-masa kuliah. Dikit banget pembelajaran yang dia dapet dari sekedar mengejar predikat cum-laude. Ketiga, masalah ikut campur Annex sama lembaga kemahasiswaan ITB. Remind me if I'm wrong, dulu pas jaman NKK/BKK kita mati-matian menentang berdirinya Senat Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Bahkan kita memilih untuk nggak memiliki lembaga sentral sekalian dan melimpahkan nilai-nilai idealisme mahasiswa ke himpunan-himpunan. Akhirnya kita bikin Keluarga Mahasiswa dengan Kabinet dan Kongres. Untuk menegaskan kita beda. Semuanya karena mahasiswa ITB jaman itu nggak bersedia kalo harus tunduk pada kekuasaan siapa pun. Kita mau jadi lembaga yang bebas dari setiran siapa pun, karena itulah intinya mahasiswa. Idealis. Kita nggak mendukung siapa pun, karena kita bebas dari kepentingan-kepentingan apa pun. Tapi sekarang rektor ngeluarin kebijakan yang nyata-nyata mengintervensi: nggak boleh ada OSKM, nggak boleh ada kaderisasi, nggak boleh ada interaksi antara organisasi mahasiswa dan anak-anak TPB, dan lain-lain. Mahasiswa bernegosiasi, nurut apa kata rektorat asal kegiatan bisa jalan. Tambah lagi, menurut Widyo (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni), rektorat sekarang lagi menggodok SK yang mengatur tentang himpunan, setelah itu tentang KM. Dimana mahasiswa? Apa peran kita sekarang sedemikian kecil?

Menurut gw tiga hal ini aneh. Tapi kok nggak ada yang protes?? Berarti menurut sebagian besar anak ITB nggak ada yang aneh dengan hal ini. Kenapa ya? Padahal OSKM tetep ada (terlepas dari apapun namanya sekarang), OS-himpunan masih jalan, Kabinet-Kongres masih ada... Apa karena perubahan jaman? Nurutnya mahasiswa ini menunjukan kalo keadaan kita sekarang makin ideal atau malah mahasiswanya yang bosen membawa nilai-nilai idealisme itu? Jadi kita sebenernya bertahan dengan segala embel-embel tentang kemahasiswaan, itu demi nilai atau cuma sekedar tradisi?

with a little smile

I always love reading, ever since I could read. Until I graduated from High School, I could sit, lie on my bed, even eat with a book in my hand. I could read from early morning to late at night. If anyone had ever asked me which one I like most: read the novel or watch the film, I would certainly pick the first one. But lately I realized, that for some reason that hobby seemed to fade away. Probably because when I started college I suddenly got too many things to think about, to care about. The assignments, quizzes, middle tests, finals, manicures, shoes, clothes, blushes, EVERYTHING! Suddenly I had no time to read, except for some 'Paman Gober' comics.

So, thanks for a friend who had reminded me about this-long-lost-hobby, I planed to read about 10 books during this college-break. But so far I only managed to read 5 books so far. Ugh..., I'm not sure I could fulfill the target.

Anyway, I just finished this book called Mystic River. Well, yeah, it's also the name of the film where Sean Penn got his first (I think) Academy Award. And it's like... what? Five years ago?? But the translation novel just out this last year, so I guess I'm not that late.

Here's a point that bothers me, so then I didn't put this book in my recently-read-books section. That you never know how a single gesture of yours effecting people around you, and it maybe so much more than you could ever imagine.

In this book, Dave Boyle was kidnapped by a pair of homo-pedophiles when he was an eleven-years-old-boy. He then came back four days later, but still, some part of him was 'infected' by the things those pedophiles did to him. You know, they said when someone do things that hurt you the most, you'd end up hurting more people the way you were hurt before. To make things worse, he was lived alone with his rather-insane-mother, his father was dead. He was someone that you could easily forgotten, a loyal friend that was half pain-in-the-ass, and never got too much attention in his life. So he started to build this character with his perfect normal life, so then no one could see that behind all of his lies, there was still part of the little boy. Who was still haunted by those pedophiles, eager to do things that was done to him long time ago.

Then, there was a murder. Dave's childhood friend's (Jimmy) daughter was killed brutally by the same night Dave came back home with blood all over his body. Dave's wife, who was frightened by the way Dave acted lately, plus the blood and everything, told Jimmy her suspicion. Here's where the prejudge begun. "You should never come back here after they took you by the car, Dave. They'd infected you," was what Jimmy said.

One of Dave's other friend, Sean, in the other hand, kept struggling to find out what's really going on. He didn't believe that Dave was guilty, until there was enough evidence. His clear mind and prejudge-free, that guided him toward right direction.

In the end, Sean was too late. By the time he told Jimmy who's the murderers of his daughter, he already killed him. Leaving Dave's son, Michael, fatherless with his rather-insane-mother, because she felt guilty of her action. See? The history started all over again.

The interesting part of this book was the background of the characters. Jimmy came from a criminal family, married to a woman who had six brothers, all criminals. Jimmy himself was a robber and murder. Sean came from a middle-class family, well-educated, a college graduated, and a super-police. His life was not always easy, but he chose not to be reactive of whatever happened in his life. This certainly made the difference. Dave, as I mention earlier, came from poor family without a criminal record in a criminal neighborhood. He was out of this world.

Jimmy with his prejudice, said that Dave was infected by those pedophiles. So that Dave was now also a crazy-mind man who could even killed his friend's daughter. This didn't fit though, Dave was infected by vampire and now he became a werewolf? But Jimmy couldn't see that, he was being reactive by the lost of his loved one, he needed to do something, anything. Even with the most impossible evidence. Dave, in the other hand was a weak man. He lied to protect his own self, said anything to please Jimmy so then Jimmy would let him go. It turned out that Jimmy didn't, and killed Dave with a gun then threw his body into the Mystic River.

Then I wonder, maybe the one that was infected the most by the kidnapping of Dave, was not Dave. It's his surroundings. Because by that event people started to build a wall, to look at him strangely, to put any possible prejudice. These surroundings that infected Dave, by their rejections and their ways to treat him like a victim. Nobody cared about the boy who had escaped his kidnappers, the pedophiles. All they see was the boy who had been kidnapped by the pedophiles and had possibility to do the same to other children. A victim. A future criminal. Not a survivor, more less a hero. And Dave became more inferior by day, so that he had to keep on building the lies. To keep him on the ground, instead of burying himself...

Maybe, if somewhere in his past there were someone who ask him like, "how did you manage to survive?" or simply offer a genuine friendship or even throw a simple real smile, things wouldn't turn as the way they were. And now, what about Michael? Would people keep seeing him as a-future's-brilliant-baseball-player or simply a son who was left by his father and now lived with his crazy mother? Maybe he wasn't the one who would be infected by his father's death, it's his surroundings, who now labeled him as 'pity child'.

Ordinary Miracle

Hmm..., kayaknya posting gw akhir-akhir ini keluhan melulu. Trus gw berpikir, why waste my time at cursing these insolent people? Ini mengingatkan gw kalo gw seharusnya yang bersikap aktif dalam mengatur hidup gw sendiri. Bukannya bersikap reaktif atas apa yang dikerjakan seseorang terhadap gw. Gw masih sering kehilangan kontrol diri nih.. *sigh*

Anyway, gw menemukan sebuah lagu yang ngena banget. Nyambung dari postingan gw sebelumnya (Apa Yah?), lagu ini tentang menghargai hal-hal kecil yang membuat hidup ini miraculous. Saat orang-orang sibuk mengartikan miracle sebagai cinta dengan segala kata 'I can't live without you', 'you make my life worth living', 'if you jump, i jump'. Mungkin kita terlalu sibuk dengan hal-hal di luar diri kita, sampai-sampai kita jarang bener-bener merhatiin that the miracle is there all along...


Ordinary Miracle - Sarah McLachlan

It’s not that unusual when everything is beautiful
It’s just another ordinary miracle today

The sky knows when its time to snow
You don’t need to teach a seed to grow
It’s just another ordinary miracle today

Life is like a gift they say
Wrapped up for you everyday
Open up and find a way
To give some of your own

Isn’t it remarkable?
Like every time a raindrop falls
It’s just another ordinary miracle today

Birds in winter have their fling
And always make it home by spring
It’s just another ordinary miracle today

When you wake up everyday
Please don’t throw your dreams away
Hold them close to your heart
Cause we are all a part
Of the ordinary miracle

Ordinary miracle
Do you want to see a miracle?

Its seems so exceptional
Things just work out after all
It’s just another ordinary miracle today

The sun comes up and shines so bright
It disappears again at night
It’s just another ordinary miracle today

It’s just another ordinary miracle today

terbangun karena KAMU

Dua hari ini gw dibangunkan pagi-pagi sekali oleh orang yang menelpon handphone gw dengan nama 'withheld'. Gw nggak tau with held itu mksudnya orang yg pake private number ato gimana, tapi yang jelas sangat mengganggu!!! Hari pertama ngebangunin gw jam 5 pagi, masih oke lah... Harus sholat subuh jg kan jam segitu. Tapi sayangnya, gw lagi nggak sholat dan hari itu gw baru tidur jam 3 pagi. Gw bahkan nggak mudeng itu orang ngomong apa, seinget gw begini:

gw: hal...o? (baru bangun banget)
dy: ini siapa?
gw: ini siapa?
dy: hasan (kalo nggak salah dy nyebut nama ini), ini siapa?
gw: hasan? hasan boul? (untuk orang yang baru bangun, ingatan gw sangat oke)
dy: hah?
gw: (sempet mikir ni orang beneran hasan?) hasan boulevard?
dy: iya
gw: oh..., ini devy
dy: *mutusin telfon*
gw: $*&!%@&%$! .............. *tidur*

Damn! Bangunin gw pagi-pagi cuma bwt nanya ini siapa!

Awalnya gw masih mencoba berpikir positif, oh mungkin si hasan abis sholat udah gitu ngeliat2 hp trus ada nomor gw trus dy ngecek siapa. Walopun sempet terlintas dipikiran gw: kayaknya gw nggak pernah kontak2an via hp sm hasan deh. Gw aja nggak tau nomornya berapa.

Besoknya, jam 3 pagi gw terbangun mendengar lagu 'Have You Ever'-nya Brandy dari dalam tas gw. Gw gelagapan nyari hp di pagi-pagi buta. Pas gw liat nomornya: 'withheld' lagi. Langsung gw taro di bawah bantal supaya nggak kedengeran. Setelah beberapa saat, gw tidur lagi. Gw mulai meragukan bahwa orang ini Hasan. Trus, masih di hari yang sama, agak malem lagu Brandy itu kedengeran lagi. Gw udah lari-lari dari atas ke bawah, menemukan bahwa si 'withheld' yang nelfon. Gw angkat, langsung dimatiin. Gw langsung yakin ini bukan Hasan Boulevard.

Gw nggak tau, apakah si penelpon misterius ini memang bernama Hasan yang salah nomor ataukah dia adalah anak Mesin yang selama lebih-kurang 2 taun men-torture gw atau orang lain. Tapi yang pasti, Anda mengganggu kehidupan saya, Bung!!

Pesan moral dari cerita ini adalah:
1. Liat-liat jam kalo mau nelfon, pikirin orang yg mw lo telfon dong
2. Kalo mau bikin orang jadi bete bgt sama lo, cara ini ampuh sekali