apa ya?

"kadang, saat berjalan
aku melihat pelangi
di atas air yang tenang
di tengah lalu lalang orang
kadang, saat sendiri
aku mengadah pada bintang
di hamparan langit gelap
ditemani pantulan rembulan

dan adakah yang pernah benar-benar mengerti?
alasan di balik semua ini
mengapa jarang kita berhenti?
untuk sekedar menghargai hari ini"

I Love The...

I love the way the sun shines through my window in the morning.
I love the way the rain wets the land and creates new life of it.
I love the way the wind sweep the leaves of trees.
I love the way the wave moves making curls on the shore.
I love the way the mothers of the birds feed their children.
I love the way the bees collecting honey into their home.


I love the smell of the earth when drops of rain water it.
I love the smell of morning coffee from my bed.
I love the smell of Chinese tea in the afternoon.
I love the smell of fresh air on the wood near the village.
I love the smell of new Balenciaga bags and Prada shoes.
I love the smell of my mother's dinner cooks.


I love the sound of birds' chirps in the morning when I wake up.
I love the sound of the rain without the thunders or the light bolts.
I love the sound of piano I play with these hands.
I love the sound of the voices of mothers when they read bed time stories.
I love the sound of lovers when they say: 'I love you'.
I love the sound of cold silent night when I stargaze into the sky.




(Just something I wrote...)

Mentari a la Disney

Sabtu pagi-pagi buta kemarin, himpunan gw akhirnya menutup rangkaian kaderisasi dengan pelantikan. Tempatnya di Ciburial, ceritanya, sebelum pelantikan kita ngelakuin Pengabdian Masyarakat dulu. Isinya demonstrasi dan wicara padi SRI (gw lupa singkatannya apa), lomba-lomba bwt anak-anak, pembuatan pupuk, dan yang tak kalah penting… elevasi perekonomian di sana, karena tiba-tiba aja warung-warung sekitar, tukang bakso, dan tukang cakwe diserbu sama manusia-manusia ini.

Pelantikannya Alhamdulillah sesuai dengan yang direncanakan, walopun flow di tempat gw jadinya nggak tinggi-tinggi banget seperti ekspektasi gw. Trus, akhirnya tibalah saat puncaknya. Setelah mereka diputer-puter sambil ditutup matanya sama 2004 dan 2003 (panitia cuma bisa bingung dan berharap), mereka ngebentuk lingkaran dengan 2 orang panitia di dalam lingkaran dan kibar-kibarin bendera Indonesia dan bendera himpunan.

Ceritanya, kahim gw teriak-teriak sambil nanya ‘siapa kalian?’, mereka jawab ‘2007’, ‘2007’, mereka bakal jawab lagi ‘ITB’. Tapi yang kita harepin adalah mereka menjawab dengan Himatek, bukan ITB lagi. Jadilah dipancing-pancing dengan kata-kata: ‘katanya udah pantes dilantik’, ‘hah? ITB? Masih TPB?’, dan lain-lain lah. Sampe akhirnya ada yang teriak ITB, trus ada panitia yang muterin mereka bisikin ‘Himatek’. Si Beng-Beng (kahim gw) terus-terusan teriak ‘2007’ sampe serek suaranya, dan akhirnya semuanya bilang: ‘Hi-ma-tek’. Baru setelah itu kita semua (yang waktu itu ada tepat di belakang mereka), menyampirkan (bener nggak sih bahasanya? Heu…) jahim yang kita pake ke mereka. Padahal saat itu jam empat subuh, udaranya dingin mampus, dan kita cuma pake kaos panitia doang. Beruntunglah kalian 2007, mempunyai senior-semior seperti kami. Hahahaha…

Anyhow, setelah itu sayup-sayup kedengeran lagu Mentari, sayangnya, keputus adzan Subuh. Agak ngerusak flow sih, secara semuanya jadi diem dulu. Udah gitu, tiba-tiba temen gw menarik gw dari barisan dan bilang: ‘Dev, sekarang lo baca puisi.’ Hahh??

Akhirnya dengan berbekal senter dan toa yang dipegangin temen gw, setelah adzan, tiba2 aja gw membacakan puisi, yang baru dibikin siangnya oleh Auzan, dan diedit malemnya dengan bantuan Anita, Ferry, dan gw. Sialnya, karena si 2004 bikin lingkaran-lingkaran membingungkan yang memecah konsen panitia, pas puisi udah mau selesai, gw nengok-nengok ke belakang, dan tampak wajah-wajah bingung yang nggak ngerti abis-ini-mw-ngapain. Karena kayaknya garing kalo dibiarin diem, gw dengan menirukan adegan-adegan Disney yang kalo stuck langsung nyanyi, akhirnya nyanyiin lagu Mentari di depan. Beruntung smw orang ikutan nyanyi, kalo nggak gw aja sendirian nyanyi di tengah gitu!!!

Trus setelah ditutup dengan salam Ganesha dan break sholat subuh, si 2007 dikumpulin lagi buat pembacaan SK-BPA tentang keanggotaan mereka. Lalu dimulailah siksaan yang sesungguhnya buat mereka *ketawa setan*. Hidangan dimulai dengan makan bawang merah yang ada di kalung mereka. Yang tadinya udah makan, tetep harus makan lagi. Dilanjutkan dengan makan pudding yang dicampur dengan jamu segala rupa, sepertinya puddingnya lebih parah daripada jelly-jamu-habis-melahirkan yang gw makan tahun lalu (not like I care, seperti yang gw bilang, ini penyiksaan…). Hidangan selanjutnya adalah ‘sereal’ jengkol-pete yang dibikin di basecamp dan membuat seluruh panitia mual-mual waktu rapat. Parahnya, dikasih essens durian pula. Gw yang nggak makan aja hampir muntah sampe keluar air mata! Wakkakka… Menyiksa memang indah. Seharusnya semua itu ditutup dengan bubur kacang hijau yang enak, tapi dasar yang bikin juga bukan ahli masak, kacang ijo-nya pun kemanisan dan bikin enek. Hahaha… Terima nasib aja lah ya…

Pulang-pulang jam setengah 10 sampe rumah, tidur jam 12 siang sampe jam 6 pagi keesokan harinya!! Hibernasi! Pas bangun pagi tadi pun badan gw masih lemes, 18 jam tanpa asupan cairan dan makanan, setelah selama 2 hari; tidur 4 jam di hari pertama dan nggak tidur di hari kedua. Badan gw berasa rontok smw.............

Some people's rain, other's sunny day



Gw baru nyadar kenapa Bogor dibilang kota hujan, ternyata memang hujan trus ya. Hehe... Took me long enough to realize, sampe harus pindah ke Bandung dulu.

Waktu gw bangun pagi ini, hujan turun dengan lumayan gede. And it's a great simple feeling, just to sit and enjoy the rain and sip a cup of coffee. I love the smell of the air, clean and fresh. Terutama gw suka bau hujan ketemu tanah. Kaya gimana ya baunya..., hmm... Like bringing life to earth. Hahaha... Bahasanya...

Terus percakapan gw dengan temen gw keinget lagi. Dia bilang dia sukanya ngeliat langit biru jernih, sementara gw suka hujan gerimis-gerimis. Maybe the fact that he comes from Jakarta. Rata-rata orang Jakarta nggak suka hujan, hahahaha...

Anyway, gw berpikir, lucu ya. Gw dan dia bukan orang yang terpengaruh banget dengan turun hujan ato nggak. Ngaruhnya ke kita paling cuma jadi males berangkat kuliah pagi-pagi, hehe... Tapi udah bawel dengan cuaca. Sedangkan ada orang-orang yang hidupnya bergantung pada cuaca, kayak petani.

Gw jadi ngerasa egois. Kalo mau jalan-jalan gw berharap nggak ujan, tapi di tengah jalan gw mengeluh panas, kalo ujan gw mengeluh lagi. Terus pagi-pagi gw berharap ujan, tapi kalo ujan gw mengeluh males kuliah naik angkot basah-basah. Sementara kalo petani, kalo ujan terus-terusan panennya bisa gagal, kalo panas terus juga bisa kekeringan. Mau ngeluh kayak apapun nggak ngaruh, tetep aja kualitas hidup beberapa bulan ke depan menurun. But they take it anyway, and survive.

Rasanya gw nggak mau berharap hujan/panas, mengeluh hujan/panas lagi deh. I'm only going to make the best of it, whether it's rain or sunny. Toh 2-2nya ada sisi menyenangkannya kok, dan kalo dipikir2, I'm okay with both of it. Lagipula, kebahagiaan gw nggak tergantung sm cuaca juga. Maybe, the world will be a better place, if I just except, enjoy, and be grateful to the world, just the way it is. And maybe, it's indeed what makes life worth living.

Peace, World