Teori Sakti: Supply-and-Demand

Kemarin dollar US ditutup pada level Rp. 12.000. Nyokap gue masih belanja parfum. Indeks IHSG pernah turun sampai 10% lebih. Gue masih belanja di Topshop. 12.600 pekerja terancam di-PHK. Temen-temen gue masih makan-makan di Sushi-Tei.

Sejujur-jujurnya, gue baru tau dollar mencapai Rp. 12.000 kemarin. Gue pikir masih Rp. 10.000-an. Nggak up-to-date banget ya? *ketawa miris*

In my defense, gue akan bilang: 'soalnya nggak kerasa sih...' Kayaknya situasi sekarang beda banget sama waktu krisis 1998 dulu. Secara saat itu gue masih SD dan, bahkan gue, tau kalo dollar naik terus, inflasi gila-gilaan, krisis moneter... Sekarang? Gue , mikir: 'Oh well, ada krisis ya?', 'Bukannya itu di Amrik?', 'Kok bisa ngaruh ke gue?'

Setangkep gue (setelah dijelasin berkali-kali oleh Jofa dan Hasan), prosesnya begini... *Ini nyotoy banget, kemungkinan salah banyak. I'll keep it up-dated.*

Berawal dari beberapa tahun yang lalu, AS menurunkan kredit pembelian rumah terhadap warganya. Sesuai dengan teori supply-and-demand, karena banyak yang membeli, maka developer berlomba-lomba membangun rumah-rumah baru. Sampai pada suatu titik dimana supply (penawaran) lebih banyak daripada demand (permintaan), sehingga harga rumah pun anjlok. Kredit yang harus dibayar masyarakat untuk rumah mereka jauh lebih besar daripada harga jual rumah tersebut. Akibatnya, terjadi kredit macet.

Bank sendiri merupakan kunci perputaran uang. Bank mendapat dana dari masyarakat, meminjamkannya ke investor, investor menanamkan modal di perusahaan-perusahaan, perusahaan menjual, masyarakat membeli, dana masuk ke bank, dan seterusnya. Maka, saat kredit rumah macet, bank tidak mempunyai sufficient fund untuk pemberian kredit baru, sektor ekonomi lumpuh.

Soal mengapa dollar malah menguat terhadap rupiah padahal AS sedang krisis (setangkep gue lagi) adalah karena dollar merupakan mata uang global. Ekspor-impor menggunakan kurs dollar. Sehingga saat sektor ini terkena imbas krisis ekonomi AS, orang berlomba-lomba membeli dollar untuk bisa tetap melakukan ekspor-impor. Karena kredit macet AS menyebabkan lambatnya perputaran uang, perputaran dollar, ketersediaan dollar menurun. Teori supply-and-demand lagi, saat supply (dollar) tidak bisa mengakomodasi demand, harganya akan naik.

Balik lagi ke keadaan ekonomi di Indonesia. Kita sekarang tinggal di masanya globalisasi. Di mana satu negara saling terikat dengan negara lainnya. Itu juga sebabnya mengapa pilpres di AS sangat dipantau oleh warga dunia. AS yang notabenenya adalah negara dengan ekonomi terkuat, menyokong ekonomi negara-negara lainnya dengan investor-investornya yang tersebar di negara-negara tersebut. Saat ekonominya collapse seperti saat ini, perusahaan-perusahaan tersebut ikut terkena imbasnya. Efek domino terus bergulir. Tidak ada dana menyebabkan perusahaan tidak bisa berjalan. Sedangkan perusahaan dan pekerjanya juga bertindak sebagai konsumen, kemampuan konsumsi mereka menurun. Perusahaan lain yang sebenarnya bukan milik investor AS akhirnya menurunkan produksi karena tidak ada pembeli. Tingkat konsumsinya juga ikut menurun... dan seterusnya.

Bahkan syekh-syekh kaya yang membeli Manchester City itu juga akhirnya tidak dapat berbuat banyak. Pendapatan mereka ditunjang dari penjualan minyak. Sedangkan krisis ekonomi membuat industri ikut macet, belum lagi kekhawatiran akan terbatasnya ketersediaan dollar, sehingga harga minyak jatuh. Terakhir gue denger di bawah US$ 50, padahal rasanya baru beberapa waktu lalu dunia ketar-ketir karena harganya yang melambung di atas US$150.

Walaupun si pemerintah bilang: jangan khawatir, ekonomi kita sudah kuat, tidak akan terjadi krisis seperti di tahun 1998, dan lain-lain. Gue rasa kita juga perlu aware. Di AS dan UE, ribuan karyawan telah dirumahkan. Coba liat di Indonesia, banyaaaaaaaaaaaak banget perusahaan-perusahaan asing. Kalau di tempat asalnya saja ratusan di-PHK, apa yang membuat kita berpikir ribuan orang di sini tidak akan mendapat perlakuan yang sama?

Mengutip kata-kata SBY 'nggak perlu panik', tapi nggak ada salahnya prepare for the worst. Siapkan mental kalo mungkin untuk beberapa waktu ke depan hidup kita nggak akan semudah saat ini. Maksud gue, beli sepatu sebanyak-banyaknya selagi mampu. Hihihi.. Nggak ding..

4 komentar:

  1. hahaha, dasar. tetep aja sepatu. btw, bener kata jofa mending yang lama ah dev. themenya..

     
  2. Bank mendapat dana dari masyarakat, meminjamkannya ke investor, investor menanamkan modal di perusahaan-perusahaan,

    kayaknya itu kebalik deh dev...
    dari mana bank dapat dana buat ngasih kredit? dari investor
    dari mana investor dapat dana? dari masyarakat dan perusahaan"

    CMIIW

     
  3. maaf...ada komentar yang lupa :P...

    ralat, sebenernya yang beli manchester city itu cuma 1 syeikh, bukan "syeikh-syeikh" :P

    dan gw gak yakin klo syeikh" negara teluk saat ini gak bisa berbuat apa-apa, toh pas harga minyak melambung kemaren mereka udah meraup banyak keuntungan.

    buktinya,
    1.ada satu syeikh yang meningkatkan porsi sahamnya di CITIgroup dengan menyuntikkan sekitar 1.5 triliun rupiah (ini dana pribadi)

    2.amerika minta bantuan dana 120 miliar dollar ke arab saudi. plus 3 negara teluk lainnya yaitu qatar, uni emirat arab, dan kuwait. total bantuan 300 miliar dollar. ini menunjukkan kalo saat ini kondisi ekonomi negara" teluk jauh lebih kuat dari kondisi di UE dan amerika

     
  4. hahaha... semua karena gue sotoy bikin postingan berbau ekonomi.

    silakan2.., yang mau mengoreksi lagi.. kita berbagi ilmu. hehehe...