Negara Tanpa Mahasiswa
Wuidih..., serem nggak sih judulnya?? Anyway, ini adalah tulisan gw yang pertama kali di-post pada 13 April 2008. Waktu semangat idealisme-mahasiswa gw lagi tinggi-tingginya dan yang ada di pikiran gw saat itu cuma hal-hal menyangkut mahasiswa.
mereka lapar dan bau keringat,
kusampaikan salam-salam perjuangan,
kami semua cinta-cinta Indonesia..."
Saya sempat beranggapan bahwa mahasiswa-mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan adalah orang-orang sok idealis yang hanya bisa mengkritik dan mengabaikan kewajibannya untuk kuliah. Saya dulu masih SD ketika kejatuhan rezim Soeharto, tiap hari dijejali dengan tayangan berita tentang demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Dari kacamata saya waktu itu, yang saya lihat adalah kemacetan, kekerasan, dan kerusakan. Tahun-tahun setelahnya, saya melihat bagaimana orang-orang yang dikatakan ‘mahasiswa’ sanggup berbuat anarkis dengan merusak fasilitas publik, fasilitas yang diperuntukan bagi rakyat yang katanya mereka bela.
Kemudian, giliran saya yang berkesempatan untuk merasakan jadi mahasiswa. Kali ini, ada pembatasan waktu studi, kuliah minimal enam tahun harus sudah lulus. Tidak ada lagi yang namanya ‘mahasiswa abadi’. Alasannya simpel: untuk mempersiapkan calon tenaga kerja menghadapi pertarungan global dan supaya tidak ‘buang-buang uang rakyat’.
Saya yang dulu akan mengatakan cara ini baik sekali. Lagi pula, buat apa lama-lama kuliah? Cita-cita saya adalah lulus kuliah dengan cepat, gampang cari pekerjaan, dan hidup enak sampai ajal datang. Waktu studi enam tahun adalah cambuk bagi saya untuk mendapatkan kehidupan impian.
Namun kemudian, kampus juga yang menyadarkan saya bahwa ada berjuta-juta hal yang lebih penting daripada sekedar mendapat A dan lulus 4 tahun. Hal itu adalah pembelajaran. Bagian teranehnya, pembelajaran itu tidak bisa saya dapatkan di dalam kelas. Pembelajaran itu adalah tanggung jawab moral, kemana bakti saya seharusnya ditujukan, dan kepada siapa sesungguhnya saya berhutang.
Di ITB ada lagu ‘wajib’ yang lebih terkenal daripada Mars ITB sendiri, salah satunya adalah lagu Kampusku. Di salah satu baitnya ada frasa ‘di sana kami dibina menjadi manusia dewasa’. Kita mungkin dibuai oleh lagu-lagu penghormatan bagi sang pahlawan tanpa tanda jasa, sehingga kata ‘dibina’ kita asumsikan sebagai ‘dibina oleh dosen/rektorat’. Tidak sepenuhnya salah, mengingat dosen bekerja keras mentransfer ilmu kepada mahasiswanya. Namun terutama, mahasiswa dibina oleh pengalaman, dibina oleh idealisme dan kepedulian kepada bangsanya, dibina oleh kecerdasan dan intelektualitasnya untuk menjadi manusia yang berguna bagi sekitarnya.
Lalu dimana korelasi antara lagu tersebut dan waktu studi enam tahun?
Jawabannya: pembatasan waktu studi menyebabkan manusia dewasa dilahirkan prematur.
Kewajiban mahasiswa bukan semata-mata untuk menuntut ilmu sehingga dapat bekerja dengan baik sesuai dengan bidang keprofesian yang dipilihnya. Oprah Winfrey tidak pernah merasakan bangku kuliah, namun dialah yang sering disebut sebagai ‘Ratu Talk show’ sejagat. Bill Gates adalah seorang drop out Harvard, namun dia berhasil menjadi orang terkaya di dunia. Jika hanya demi profesi, apalagi harta, tidak perlu belajar di kampus.
Hal yang membedakan mahasiswa dan non-mahasiswa adalah pemahamannya tentang kemahasiswaan itu sendiri. Kemahasiswaan, setelah saya sadari, bukan semata-mata aksi protes dan demonstrasi. Terutama, bukan aksi anarkis. Mahasiswa adalah agent of change. Perubahan apa? Perubahan menuju perbaikan, perubahan menuju masyarakat madani.
Konsepsi kemahasiswaan pada dasarnya adalah penyadaran bahwa setiap bangsa Indonesia, dipelihara oleh Negaranya, oleh Indonesia. Entah apakah dia seorang presiden perusahaan multi-nasional atau ‘hanya’ seorang cleaning service di instansi pemerintah. Semua memegang peranan penting dalam siklus suatu Negara. Memahami konsepsi kemahasiswaan, berarti memahami bahwa kita semua sesungguhnya berhutang banyak kepada Negara ini. Terutama mahasiswa, yang merupakan orang-orang beruntung yang terpelihara dengan baik oleh Negara.
Sekarang pertanyaannya, berapa banyak mahasiswa yang mengerti konsepsi tersebut? Mahasiswa dijejali dengan tugas dan ujian-ujian demi memahatnya menjadi seorang profesional. Menurut saya, itu baik sekali. Namun masalahnya, dengan kesibukan seperti itu, sulit bagi mahasiswa untuk sekedar berkecimpung dalam dunia kemahasiswaan. Apalagi ditambah dengan pembatasan waktu studi. Berapa lama waktu yang dapat digunakan mahasiswa untuk mempelajari hal yang membuatnya menjadi seorang ‘mahasiswa’?
Menyedihkan, bagaimana sistem pendidikan justru mengekang hakikat pendidikan itu sendiri. Semakin menyedihkan, karena hal ini alasan pendidikan justru membodohi orang-orang yang seharusnya memiliki intelektualitas tinggi.
Jika alasan pembatasan waktu studi adalah seperti yang saya sebutkan di atas, maka coba tengok hal ini. Dari keringat rakyat Indonesia-lah mahasiswa bisa kuliah, seharusnya setelah lulus, mereka berkontribusi membangun kesejahteraan bagi rakyat, membangun Negara yang telah membesarkannya sampai udara terakhir yang dihirupnya. Namun tanpa pemahaman tentang konsepsi tersebut, selama kurang lebih empat tahun menghisap jerih payah rakyat, mahasiswa lulus untuk menjadi buruh bagi Negara lain. Budak-budak ‘negara maju’ yang bangga dengan Chevron, Schlumberger, dan Unilever-nya. Lalu bagaimana nasib rakyat jika anak-anak terbaik bangsanya dihisap oleh ke-glamour-an korporasi? Mereka yang miskin, semakin miskin. Mereka yang kaya bersenang-senang dalam tempurung kebodohannya.
Inilah potret Negara tanpa ‘mahasiswa’: Negara yang rakyatnya tetap saja lapar dan bau keringat.
Posted in: on Selasa, 07 Oktober 2008 at di 19:16
Hm... yg mulai ragu2 buat mengabdikan diri di instansi negara jd malu nih... apa dgn bertambahnya umur tuh idealisme makin luntur ya?
dunno.., aku sih berharapnya i can hold this idealism for life. :)
iya neh..
America aja sekarang lagi mengalami krisis, buktinya semua private sector gak bisa bantu banyak..
Apalagi ndonesia ya?
Tapi dev, lo harus tau jg many Univ in the world now is using Fast Track Curriculum,,
Devy sajah: tp kita kn nggak bs nerapin hal yg sama di smw negara
Devy sajah: krn,,,
Devy sajah: mungkin mrk memang dr sd nya udh dilatih untuk mikirin hal-hal yg baru kita temuin di kuliah
Devy sajah: kayak di harvard,,
Devy sajah: udh g jaman mrk mikir negara,,
Devy sajah: mindset mereka adalah 'dunia yg lebih baik'
Devy sajah: indo tuh telat beberapa puluh ato ratus dr mrk,,
Devy sajah: taun, mksd gw
Devy sajah: jd globalisasi sebenernya serba salah bwt negara2 kayak indo
Devy sajah: *menurut gw*
Lagian kalo diliat lagi, fast-track itu siapa sih yang bikin duluan? negara-negara macam amerika? ya iyalah, itu banyak manfaatnya buat mereka. More robots to come buat perusahaan-perusahaan mereka kan?
devyyyyy.!!
owmygod.! im soo jealous at u right now..
keren abiis tulisan lo yang satu ini..
huwaa,, sobat gw,, gifted boo..
(^w^)b..