Dove Memang Beda
Gw nggak bermaksud ikut-ikutan mempromosikan Dove di blog ini, bahwa 1/4-nya adalah moisturizing cream dan lain-lain... Ini tentang iklan Dove yang gw liat di Oprah beberapa taun yang lalu. Nggak seperti iklan-iklan produk kecantikan yang selalu menonjolkan 'definisi kecantikan' ("kulit putih", "kulit cerah", "cewek yang disukai cowok adalah yang berkulit putih"), di iklan ini, Dove mengatakan: you should be grateful for who you are. Di campaign-nya itu dia nampilin anak-anak, kulit putih, kulit hitam, chinese, yang berkacamata, yang pake bracket, yang banyak freckle, yang gemuk, yang kurus,dan lain-lain. Awalnya anak-anak itu keliatan murung, sampe trus mereka tersenyum dan tertawa karena menyadari mereka cantik. Backsoundnya lagu Phil Collins, True Colors, yang dinyanyiin anak-anak.
Setelah gw nonton itu gw jadi menyadari seberapa media, (khususnya televisi) sekarang memang udah 'menyisip' bahkan ke dalam tempat-tempat yang seharusnya untuk pribadi. Kita udah dicekokin dengan suatu paradigma tentang adanya standar kecantikan. Kita diajarkan untuk membedakan: si A cantik, si B jelek, si C lumayan. Padahal kalo dipikir-pikir apa sih yang menjadi dasar kita untuk membedakan si A, B, dan C? Apakah A cantik karena dia kurus, putih, hidung mancung? Apakah B jelek karena dia hitam, gemuk, dan keriting? Siapa yang bilang cantik itu harus kurus, putih, dan mancung? Apa karena Iriana Lazereau kurus trus semua orang harus kurus dulu untuk jadi cantik? Waktu jamannya Britney Spears, tiba-tiba semua orang akan jadi lebih cantik kalo rambutnya blond juga. Sementara di Indonesia, karena artis rata-rata berkulit putih, kita mendefinisikan cantik sebagai 'kulit putih'. Orang-orang berlomba-lomba operasi plastik. Naikin tulang pipi, mancungin hidung, permak bibir, runcingin dagu dan lain-lain. Tapi operasi plastik nggak akan membuat orang menjadi cantik, itu cuma akan membuat orang terlihat lebih mirip dengan model-model majalah.
Di Afrika sana juga ada yang mendefinisikan cantik dengan seberapa panjang leher mereka. Karena itu perempuan-perempuan menyangga leher mereka dengan semacam gelang-leher yang tiap tahun selalu ditambah. Tradisi Cina jaman dulu dimana derajat sosial perempuan ditentukan dengan seberapa kecil ukuran kaki seseorang, makanya gadis-gadis bangsawan biasa pake sepatu yang menghambat perkembangan kaki mereka. Jaman Victoria dulu, cantik didefinisikan dengan seberapa kecil lingkar pinggang mereka, makanya mereka pake korset ekstra ketat kayak di film Gone with The Wind. Konyol? Nggak lebih konyol dari memotong daging untuk mengganti tulang dengan silikon, menyuntikan cairan asing ke dalam tubuh untuk menghambat produksi melanin, atau masukin jari kedalam kerongkongan untuk memuntahkan makanan.
Standar yang ada di masyarakat ini udah keterlaluan karena diterima dengan wajar sama orang-orang. Salah satu temen gw pernah bilang, "Kita semua adalah konsumen. Dan konsumen nurut apa kata produsen." Terus reaksi gw adalah, bukannya gw berhak untuk memilih ya? Gw nggak mau ikut-ikutan apa kata si produsen, terutama kalo hasilnya ngerusak kayak gini. Gw inget, waktu itu ada iklan sabun X di Indonesia, di situ dia nanya-nanyain para cowok, cewek seperti apa yang mereka suka. Trus si cowok-cowok itu akan bilang: yang kulitnya putih. Iklan itu kurang ajar, tapi kayaknya nggak ada yang nyadar. Masyarakat udah bener-bener didoktrin bahwa such standard exist. Menyedihkan.
Gw rasa sebenernya nggak ada seorang pun yang berhak menentukan definisi kecantikan. Nggak agensi model, nggak Karl Lagerfield, nggak perusahaan sabun, nggak perusahaan kosmetik, nggak seorang pun. Manusia diciptain sama Tuhan loh. Gimana kita mau bilang kalo kita adalah manusia yang percaya dan takut pada Tuhan kalo di dalam hati kita selalu bilang: 'ciptaan Tuhan yang ini jelek', 'nah, ciptaan Tuhan yang ini cantik', 'ugghh... ciptaan Tuhan yang ini jeleknya keterlaluan'??
Gw jadi kepikiran, tentang banyaknya orang yang melakukan operasi plastik akhir-akhir ini, by the name of beauty. Penyakit bernama 'standar kecantikan' itu segitu mempengaruhi mereka sampai mau merogoh kocek puluhan juta untuk mendapatkan hidung ideal, dagu ideal, tulang pipi ideal, dan lain-lain. Penyakit itu juga yang menyebar dan merasuki sekitarnya. Coba bayangin gimana perasaan anaknya. Dia bakal ngerasa bahwa hidung mamanya, yang sama dengan hidung dia, begitu jeleknya sehingga harus diubah. Tulang pipi mamanya, yang sama dengan tulang pipi kakaknya, juga jelek banget sampai harus dioperasi. Setiap hari dia ngeliat orang tuanya mematut-matut diri di cermin, mengeluh kelebihan berat badan padahal beratnya nggak lebih dari berat badan orang sehat. Si anak bakal tumbuh dengan perasaan nggak puas dengan dirinya sendiri. Why should she/he? Karena bahkan orang tuanya nggak pernah puas dengan dirinya sendiri.
Gw sering nonton talkshow dimana orang yang cantik, bahkan model sekalipun, terus-terusan merasa dirinya jelek. Akibatnya dia mulai menghindari cermin, kecanduan operasi plastik, anoreksia, bulimia, dan lain-lain. Gosipnya Michael Jackson juga menderita penyakit ini. Ini cukup membuktikan pada gw, bahwa sebetulnya cantik atau nggaknya seseorang, dia sendiri yang menentukan. Bukan standar busuk yang ada dalam masyarakat. Beauty really is what lies inside you. Dan jangan pernah membiarkan seorang pun berkata pada lo kalo lo nggak cantik. Because we are beautiful, like the rainbows...
Posted in: beauty, thoughts on Senin, 18 Agustus 2008 at di 21:03
iya, daku juga suka dove, gak melupakan rambut keriting/kribo sebagai objek samponya. gak diskriminatif
tapi sayang setelah pake itu ketombean.. uhuhuhu
cantik emank karna putih karna langsing dll. wajar kalo stiap org blg cantik tuh harus punya kriteria khusus. kalo org cantik menurut definisi di blog maka pasti smua org buta. mahkluk tuhan emang ada yang cantik ada yang jelek, trima aja kalo udah jelek.