MOVING

THIS BLOG HAS BEEN MOVED TO
DEVYSAJA.BLOGSPOT.COM

MOVING, MOVING

I am getting bored by this blog :D Then decided to move. It's a little bit of everything from now on. Cheers..!

Visited and revised

I change my mind. All in the world is free for you to take, no paying. Hihihi... Therefore free you don't lose anything when it's gone.

Lupa

Ngelupain sesuatu itu nggak bagus. Gue, lupa nggak bawa kunci saat pulang jam 1 malem, ngerepotin orang rumah. Belum lagi diomelin ibu. Ato lupa rumus waktu ujian Perambatan Panas, nggak bisa ngerjain deh.

They said some things are better best forgotten.

Nggak tau ya... Kalo kata Pintu Terlarang, setiap orang punya pintunya masing-masing yang lebih baik ditutup selama-lamanya, nggak boleh dibuka-buka lagi. Kalo nggak, nanti bisa gila kayak si pemeran utama (lupa namanya siapa). Tapi gue pikir, each passing time, people grow. Older, wiser, wittier... Si A hari ini adalah produk dari kehidupannya, pengalamannya. Melupakan sesuatu, menurut gue, bukan cuma menyatakan kalo hal itu insignifikan buat dia tapi juga membuang pelajaran yang harusnya membuat dia jadi lebih baik.

Misalnya waktu gue salah beliin kado Novi. Huehehe... Gue beliin dia sepatu tapi nomornya kekecilan. *grin* Kalo gue lupain, satu, itu berarti menurut gue ukuran sepatunya Novi nggak penting. Dua, gue juga nggak akan belajar kalo lain kali, kalo mau beliin sepatu buat orang, pastikan nomornya bener karena ukuran sepatu juga tergantung merk. I most probably akan melakukan hal yang sama di masa yang akan datang.

Ingatan itu seharusnya nggak bikin orang sedih, cuma menyediakan wadah untuk refleksi. Orang nggak akan pernah jadi cukup kuat kalo terus-terusan mengubur ingatan. Because you'll never be strong by running away.

Gue akhir-akhir ini jadi berpendapat, mungkin yang terbaik yang bisa gue lakukan adalah menerima dan memaafkan. Menerima kalo it used to blablabla but no longer blablabla, menerima kalo I made a mistake, menerima kalo I wasn't good enough that time, dan lain-lain. Memaafkan diri sendiri (dan orang lain, mungkin) karena not good enough, not wise enough, not being patient enough. Terus kayak Lebaran, kita semua memulai lembaran yang baru.

Ada momen-momen di mana kita ngerasa amat sangat lemah, ngerasa gagal, ngerasa anything but happy. Mengingat itu dan melihat gue bisa bertahan sampai sekarang, membuat gue ngerasa: ternyata I am so much more than I thought. Hahaha... Gue bukannya udah jadi sempurna, besok juga kayaknya nggak, sebulan, setahun... Seratus tahun lagi gue mungkin nggak juga sempurna (considering I'll be 120-year-old and all wrinkled).

Terus gue ngerasa, everything will be over eventually. The party has to stop, the storm has to end. Dan setelah itu, yang tersisa cuma apa yang ada dalam ingatan. That's why it's precious: because you pay much for it.

Deklarasi

Gue nggak segitu naifnya sih. Gue tau kalo dunia itu nggak hitam-putih, lebih banyak yang abu-abunya. Tapi kok akhir-akhir ini gue ngerasa dunia itu lebih banyak hitamnya ya??

Malem ini di MetroTV ada berita tentang penetapan bakal calon cawapresnya SBY. Yang lagi santer kedengeran namanya ya Boediono. Trus tiba-tiba katanya empat partai koalisi, yang tadi gue liat sih PKS, mengancam membatalkan koalisi kalo bener Boediono yang dipilih. Katanya, cawapres tuh harus dari partai Islam karena begini-begitu-begini-begitu. Harus non-Jawa karena begitu-begini-begitu-begini. Dulu Demokrat mau koalisi sama Golkar juga ancemannya gitu. Suara kurang dari 10% juga! 10% dari 60%, kerena 40% nya golput. Huhh... Katanya partai Islam, kok ya haus kekuasaan juga!!!! *emosi jiwa*

Gue bukannya pendukung SBY/Demokrat. Oke, mungkin gue memang milih Demokrat waktu Pemilu kemarin, tapi bukan berarti gue simpatisan kan. Mana yang katanya bhineka tunggal ika??? Pada lupa kali ya??? Nggak ngefek kali ya belajar P4, PPKn, PKn, apalah itu namanya??? Nggak ada yang namanya pasangan harus nasionalis-Islamis, Jawa-Non Jawa. Huhhh... Sedangkal itu kah orang menilai masyarakat Indonesia sampe harus ada formula saklek in order to maintain stability??? Kepentingan bangsa apanya???

Gue sebetulnya bukan orang yang percaya sama politikus. Tapi gue berusaha untuk nggak skeptis, nggak apatis... *ngapus air mata* Tapi kok gue bertubi-tubi mendapatkan bahwa mungkin keyakinan gue sia-sia ya? Huks, huks... Makin dipikir makin sebel.

Apa gue bikin negara sendiri aja ya? Ukurannya cukup 10x10. Dimana gue yang bikin peraturan, gue yang naatin sendiri. Ide cerdas. Kayaknya gue ngerti kenapa dulu Pidi Baiq bikin Republik Panas Dalam. Yeyyy... Kalo gue bikin negara sendiri berarti gue nggak usah pusing-pusing mikirin Pemilu, nggak perlu mikirin kerjaan yang berguna buat Indonesia, nggak usah peduli mau berapa pun jumlah pengangguran dan orang miskin di Indo, nggak usah peduli anak-anak SD yang disuruh masuk sekolah jam 6.30 pagi... Cukup bersimpati pada Indo (bodo amat, bukan negara gue juga). Cukup berbakti pada negara 10x10 meter gue doang, yang penduduknya ya cuma gue. Dengan kata lain: gue cukup memikirkan diri gue sendiri. Cerdas, Dev, cerdas...